Harga Perak Terjun, Volatilitas Melejit Saat Yield dan Dolar Menguat
Perak spot (XAG/USD) kembali turun tajam pada Jumat (15/5), memperpanjang pembalikan setelah reli besar di awal pekan. Pada 1:22 PM waktu New York, perak berada di US$76,56/ons, turun 8,16% pada hari itu, dengan rentang harian US$75,67–US$84,00.
Tekanan utama datang dari kombinasi yield AS yang naik dan dolar yang menguat, yang mengurangi daya tarik logam tanpa imbal hasil. Di pasar makro, DXY berada di sekitar 99,16, sementara yield US 10Y di sekitar 4,593%—keduanya memperkuat headwind untuk logam mulia.
Pergerakan ini membalikkan euforia awal pekan yang ditopang minat pada saham-saham terkait AI dan logam industri untuk kebutuhan data center (kabel, sistem tenaga, pendinginan), ditambah spekulasi soal ketersediaan bahan bakar di Peru (negara produsen besar). Namun narasi itu kemudian “dipatahkan” oleh kekhawatiran inflasi yang kembali menguat—pasar meminta yield lebih tinggi—yang memicu aksi profit taking dan pelepasan posisi spekulatif.
Di sisi energi, harga minyak yang tetap tinggi ikut menjaga kekhawatiran inflasi global, sehingga memperkuat asumsi “higher for longer” pada suku bunga. Pada layar yang sama, WTI tercatat sekitar US$105,09 dan Brent sekitar US$109,19, menambah sensitivitas pasar terhadap inflasi berbasis energi.
Meski koreksi tajam, karakter pasar perak tetap rentan terhadap arus dana yang relatif kecil karena ukuran pasar fisiknya lebih kecil dibanding komoditas besar lain. Ke depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada arah yield dan dolar, stabilitas harga energi, serta apakah sentimen “AI trade” kembali pulih atau justru berlanjut melemah—karena faktor-faktor ini yang paling cepat mengubah volatilitas perak.(arl)
Sumber: Newsmaker.id