Dolar Reli, Inflasi dan Iran Jadi Pemicu
Indeks dolar AS menguat ke sekitar 99 pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 1%. Penguatan didorong meningkatnya tekanan inflasi yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga di paruh akhir tahun.
Data awal pekan ini menunjukkan inflasi grosir AS meningkat dengan laju tercepat sejak 2022, sementara inflasi konsumen mencatat kenaikan terbesar sejak 2023. Tekanan harga kembali menguat seiring “shock” energi yang dikaitkan dengan konflik Iran, memperkuat narasi bahwa inflasi bisa lebih sulit turun dalam waktu dekat.
Dari sisi aktivitas, pertumbuhan penjualan ritel melambat sesuai perkiraan, namun tetap menunjukkan permintaan konsumen yang relatif tangguh. Kombinasi konsumsi yang bertahan dan inflasi yang mengeras membuat pasar makin yakin kondisi moneter akan tetap ketat.
Pasar kini sepenuhnya menghapus peluang pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dan sebagian pelaku mulai meningkatkan penetapan peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Repricing ini memperkuat dukungan bagi dolar melalui jalur ekspektasi kebijakan.
Perhatian investor juga tertuju pada hari kedua pembicaraan tingkat tinggi Trump–Xi. Risiko geopolitik tetap menjadi faktor tambahan setelah Xi memperingatkan isu Taiwan dapat menjadi sumber “benturan”, yang berpotensi menambah volatilitas sentimen global di tengah fokus pasar pada inflasi dan arah suku bunga AS.(asd)
Sumber : Newsmaker.id