Minyak Stabil, Hormuz Mulai Dilewati Namun Risiko Keamanan Membayangi
Harga minyak ditutup nyaris tidak berubah pada Kamis (14/5), setelah media pemerintah Iran menyebut sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz. Meski begitu, serangan terhadap satu kapal dan penyitaan kapal lain menjaga kekhawatiran atas kelancaran pasokan energi selama perang Iran.
Kontrak berjangka Brent naik tipis 9 sen (0,09%) menjadi US$105,72 per barel, sempat menyentuh US$107,13 namun lebih banyak bergerak di zona negatif sepanjang sesi. WTI naik 15 sen (0,15%) menjadi US$101,17 per barel. Sehari sebelumnya, minyak terkoreksi tajam seiring pasar menimbang risiko kenaikan suku bunga AS untuk meredam inflasi.
Dari sisi geopolitik, Selat Hormuz masih jauh dari normal. Garda Revolusi Iran menyebut 30 kapal melintas sejak Rabu malam, dibanding rerata harian sekitar 140 sebelum perang. Iran juga disebut memperketat kontrol dengan mengatur kesepakatan pengapalan bersama Irak dan Pakistan, sementara kantor berita Fars melaporkan Teheran mulai mengizinkan transit sebagian kapal China; sebuah supertanker China yang membawa 2 juta barel minyak mentah Irak dilaporkan berhasil melintas pada Rabu setelah tertahan lebih dari dua bulan.
Namun, risiko keamanan meningkat. Kapal kargo India yang mengangkut ternak dari Afrika ke UEA dilaporkan tenggelam pada Kamis di lepas pantai Oman, sementara UKMTO menyebut “personel tak berwenang” menaiki kapal yang berlabuh dekat Pelabuhan Fujairah (UEA) dan mengarahkannya menuju Iran. Insiden semacam ini menjaga premi risiko pengapalan dan memperbesar sensitivitas pasar pada gangguan pasokan, meski ada tanda peningkatan arus kapal.
Di sisi diplomasi, Gedung Putih menyatakan Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat Hormuz harus tetap terbuka untuk arus energi. Xi juga disebut tertarik membeli lebih banyak minyak AS untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz, meski China tidak mengimpor minyak mentah AS sejak Mei 2025 akibat tarif impor 20% pada masa perang dagang.
Fundamental pasokan tetap ketat. IMF memperingatkan ekonomi global bergerak ke skenario “adverse” dengan pertumbuhan PDB riil global turun menjadi 2,5% tahun ini dari 3,4% pada 2025, sementara IEA menyatakan pasokan minyak global tahun ini diperkirakan kurang dari permintaan karena persediaan terkuras cepat. Di AS, stok minyak mentah turun 4,3 juta barel menjadi 452,9 juta barel pada pekan berakhir 8 Mei, meski stok distilat justru naik berlawanan dengan ekspektasi.
Pasar akan memantau apakah arus kapal di Hormuz benar-benar meningkat dan bertahan, perkembangan insiden keamanan di sekitar UEA–Oman, serta tindak lanjut pembicaraan AS–China terkait energi. Data persediaan AS dan arah kebijakan suku bunga juga tetap menjadi penentu volatilitas, mengingat risiko pasokan energi masih mudah diterjemahkan menjadi tekanan inflasi.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id