Bitcoin Tertekan, Risk-Off Menguat
Bitcoin kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (20/7), seiring investor masih menghindari aset berisiko akibat memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$63.903, dengan level intraday bergerak di kisaran US$63.742 hingga US$65.012.
Tekanan terhadap Bitcoin muncul karena pasar kembali masuk ke mode hati-hati. Serangan AS-Iran yang meningkat membuat sentimen risk-off menguat, sementara aset spekulatif seperti kripto cenderung kurang diminati saat ketidakpastian geopolitik meningkat.
Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor utama yang membebani pasar kripto. Brent kembali menembus area US$90 per barel setelah konflik AS-Iran membatasi pengiriman energi melalui Selat Hormuz, sehingga risiko inflasi kembali menjadi perhatian utama pasar.
Dari sisi suku bunga, pasar masih memperkirakan The Fed menahan suku bunga pada pertemuan 29 Juli, dengan probabilitas hold sekitar 85,6%. Namun, risiko kenaikan suku bunga belum hilang karena tekanan inflasi energi membuat pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember.
Tekanan juga terlihat pada aset kripto lainnya. Ethereum berada di sekitar US$1.624,95, XRP di US$1,059, Solana di US$77,97, Cardano di US$0,1619, BNB di US$564,51, dan Dogecoin di sekitar US$0,0716.
Dampaknya ke market, Bitcoin masih berisiko tertekan selama konflik Timur Tengah belum mereda, harga minyak tetap tinggi, dan ekspektasi suku bunga AS kembali menguat. Secara teknikal, area US$63.700 menjadi support terdekat; jika jebol, tekanan bisa berlanjut, sementara rebound baru lebih meyakinkan jika BTC mampu kembali bertahan di atas US$65.000. (arl)
Sumber : Newsmaker.id