Minyak Menguat, Harapan Damai AS-Iran Makin Memudar
Harga minyak menguat pada perdagangan Selasa (18/8) setelah prospek kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah semakin memudar. Iran menyatakan akan mengambil sikap militer yang lebih ofensif, sementara Amerika Serikat menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Brent crude naik 62 sen atau 0,7% ke US$91,49 per barel pada pukul 04.08 GMT, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI naik 75 sen ke US$85,25 per barel, setelah sempat mencapai US$85,37, level tertinggi sejak 31 Juli.
Sentimen pasar kembali tertekan karena perkembangan pembicaraan damai AS-Iran dan pemulihan lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz terlihat mandek. Jalur penting tersebut masih menjadi perhatian utama karena arus kapal tetap sangat terbatas, sementara konflik yang dimulai sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari belum menunjukkan tanda mereda.
Risiko pasokan juga meningkat setelah sebuah proyektil menghantam kapal yang keluar dari Selat Hormuz pada Selasa. Di Laut Merah, kelompok Houthi Yaman juga meluncurkan rudal ke sejumlah kapal yang mereka sebut sebagai kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal, menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran energi.
Dari sisi dampak market, minyak berpotensi tetap bergerak dalam rentang tinggi selama belum ada kesepakatan AS-Iran dan lalu lintas Hormuz belum normal. Analis memperkirakan harga minyak dapat bergerak di kisaran US$80–US$100 per barel dalam jangka pendek. Jika serangan kapal berlanjut atau stok minyak AS kembali turun, Brent dan WTI berpeluang mempertahankan penguatan, sementara risiko inflasi energi dapat kembali menekan sentimen pasar global. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id