Minyak Tertahan Setelah Reli Enam Hari, Hormuz Masih Jadi Fokus
Harga minyak bergerak melemah tipis setelah mencatat kenaikan selama enam sesi berturut-turut. Brent turun mendekati US$88 per barel setelah melonjak sekitar 12% dalam enam hari sebelumnya, sementara WTI bergerak di kisaran US$82. Investor kini menunggu perkembangan baru terkait upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dari sisi diplomatik, belum terlihat kemajuan berarti antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan AS memiliki “kendali penuh” atas Hormuz, sementara Washington masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pakistan yang berperan sebagai mediator juga menyebut proses perdamaian yang lebih luas mulai terhenti.
Meski terkoreksi, minyak masih berada di jalur penguatan mingguan. Konflik Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina terus memberikan tekanan terhadap pasar energi setelah sejumlah pelabuhan, kilang, dan infrastruktur energi menjadi sasaran serangan. Kondisi tersebut membuat volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi selama Hormuz belum kembali beroperasi normal.
Risiko pasokan juga masih besar. International Energy Agency memperkirakan pasar minyak global mengalami defisit sekitar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini, lebih dari dua kali proyeksi sebelumnya. Untuk sepanjang 2026, defisit pasokan diperkirakan menjadi yang terbesar dalam lima tahun. Namun, tingginya harga minyak mulai menekan konsumsi dan menjadi risiko terhadap permintaan global.
Di sisi lain, tekanan jangka pendek datang dari Amerika Serikat. Data Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS melonjak 17,4 juta barel pada pekan lalu, kenaikan terbesar sejak Januari 2023. Peningkatan stok terutama terjadi di kawasan Gulf Coast akibat ekspor yang melemah dan kenaikan impor, termasuk pasokan dari Arab Saudi dan Venezuela.
Analisis Newsmaker: Pasar minyak saat ini berada di antara dua sentimen yang berlawanan. Defisit global dan kebuntuan Hormuz masih menjadi penopang harga, tetapi lonjakan besar stok AS dan pelemahan permintaan membatasi kenaikan. Selama Hormuz belum dibuka normal, Brent masih berpeluang bertahan di area US$85–US$90, sementara perkembangan diplomatik dapat memicu pergerakan tajam ke kedua arah.(gn)
Sumber: Newsmaker.id