Permintaan China Dorong Harga Perak
Harga perak naik ke atas US$63,5 per ons pada perdagangan Senin (10/8), mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu. Penguatan terjadi setelah pasar semakin yakin bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga tahun ini.
Sentimen positif datang dari data tenaga kerja AS yang melemah. Nonfarm Payrolls Juli turun secara tak terduga, sehingga pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Harga minyak yang masih jauh di bawah puncak saat konflik Iran juga membantu meredakan kekhawatiran inflasi energi. Kondisi ini membuat logam mulia seperti perak lebih menarik karena biaya peluang memegang aset tanpa bunga menjadi lebih rendah.
Selain faktor suku bunga, permintaan industri turut mendukung harga perak. China mencatat kenaikan impor bijih yang mengandung perak sebesar 62,5% secara tahunan pada Juni menjadi sekitar 219 ribu ton.
Permintaan tersebut sejalan dengan meningkatnya produksi panel surya dan pembangunan jaringan listrik di China, dua sektor yang membutuhkan perak dalam jumlah besar.
Analisis Newsmaker: Momentum silver masih cenderung bullish karena mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dan kuatnya permintaan industri. Namun, risiko lonjakan harga energi tetap perlu diperhatikan karena dapat menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan membatasi kenaikan perak. (arl)
Sumber: Newsmaker.id