Tanker Dihadang Iran, Harga Minyak Berbalik Naik
Harga minyak Brent berbalik naik lebih dari 1% pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, dan sempat menyentuh US$90,04 per barel. WTI turut meningkat ke sekitar US$84,77 per barel. Kenaikan tersebut membawa Brent menuju penguatan bulanan sekitar 23% karena pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Kekhawatiran pasokan kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran dilaporkan menghentikan dua kapal tanker dan menyebabkan empat kapal lainnya mengubah rute. Walaupun dua kapal tanker raksasa atau VLCC berhasil keluar dari Selat Hormuz, aktivitas pelayaran di jalur energi strategis tersebut masih tergolong sangat terbatas.
Sentimen pasar juga diperburuk oleh serangan drone terhadap kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur menuju Terusan Suez. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Volgograd di Rusia turut memperbesar risiko gangguan pasokan dari kawasan lain, sehingga tekanan kenaikan tidak hanya berasal dari Timur Tengah.
Menurut analisis Newsmaker, kenaikan Brent menunjukkan pasar belum yakin distribusi minyak melalui Hormuz benar-benar pulih. Harga berpotensi tetap tinggi dan volatil selama lalu lintas tanker belum kembali normal. Namun, kenaikan dapat kembali tertahan apabila pengamanan jalur laut membaik, kapal-kapal mulai berani melintas, atau perundingan antara Iran dan negara kawasan menghasilkan kemajuan.
Dampak terhadap Market :
Minyak: Brent dan WTI berpeluang melanjutkan kenaikan apabila gangguan kapal bertambah atau fasilitas energi kembali diserang. Namun, pergerakannya tetap rawan koreksi karena sangat bergantung pada data lalu lintas tanker.
Inflasi: Kenaikan minyak dapat meningkatkan harga bahan bakar, transportasi, logistik, dan produksi. Kondisi ini berisiko membuat inflasi global lebih sulit mereda.
Emas: Berpotensi mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi. Namun, kenaikan yield dan dolar dapat membatasi penguatannya.
Dolar AS: Bisa menguat sebagai aset aman. Akan tetapi, lonjakan harga energi juga dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Amerika.
Pasar saham: Saham energi berpeluang naik, sedangkan sektor penerbangan, transportasi, manufaktur, dan konsumsi berisiko tertekan oleh peningkatan biaya operasional.
Kesimpulan: Kenaikan Brent menjadi sentimen positif bagi saham energi dan berpotensi mendukung emas, tetapi negatif bagi inflasi serta sektor yang sensitif terhadap biaya bahan bakar. Arah selanjutnya akan ditentukan oleh keamanan pelayaran di Hormuz dan perkembangan konflik AS–Iran.(CP)