Inflasi Melandai, Emas Langsung Melaju
Harga emas melanjutkan penguatan pada perdagangan sesi Amerika Kamis (30/7). XAU/USD bergerak di sekitar US$4.113 per troy ounce, setelah sempat menyentuh US$4.120 dan bangkit dari level terendah harian di sekitar US$4.028. Kontrak berjangka emas AS turut naik hampir 2% ke sekitar US$4.111.
Kenaikan emas terutama ditopang pelemahan tajam dolar Amerika Serikat. Indeks Dolar AS turun sekitar 0,9% ke area 99,79–99,95, level terendah dalam beberapa pekan, di tengah dugaan intervensi otoritas Jepang yang mendorong penguatan yen. Dolar yang lebih murah meningkatkan daya tarik emas bagi pembeli non-AS.
Data ekonomi AS juga memberikan dukungan. Inflasi inti PCE Juni melambat menjadi 0,1% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan, sedangkan inflasi utama turun 0,1% secara bulanan dan melandai menjadi 3,7% secara tahunan. Meski masih di atas target The Fed, data tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.
Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua hanya mencapai 1,5% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal sebelumnya. Perlambatan terutama dipengaruhi pelebaran defisit perdagangan, meskipun konsumsi masyarakat dan investasi bisnis masih cukup kuat.
Pasar turut memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat setelah The Fed mempertahankan bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Namun, tiga suara yang mendukung kenaikan dan yield Treasury jangka panjang yang masih tinggi menunjukkan ancaman kebijakan ketat belum hilang. Yield tenor 30 tahun berada di sekitar 5,23%, sedangkan yield 10 tahun terakhir tercatat di sekitar 4,67%.
Dampaknya, emas masih berpeluang menguji US$4.120, kemudian US$4.150–US$4.200 apabila dolar tetap lemah. Namun, kegagalan bertahan di atas US$4.100 dapat memicu koreksi menuju US$4.075–US$4.065. Konflik Timur Tengah tetap menopang permintaan aset aman, tetapi harga minyak dan yield tinggi masih dapat membuat pergerakan emas sangat fluktuatif.(arl)
Sumber: Newsmaker.id