Intervensi Jepang Angkat Emas
Harga emas bertahan menguat pada perdagangan Jumat (31/07) setelah dolar AS melemah tajam akibat intervensi Jepang untuk menopang nilai tukar yen. Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan terhadap logam mulia tetap terjaga.
Emas bergerak di sekitar level tertinggi dalam beberapa hari dan berpeluang mencatat kenaikan bulanan pertamanya sejak Februari. Selain faktor dolar, harga emas juga mendapat dukungan dari keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini.
Bank sentral AS memilih menahan suku bunga meskipun tekanan inflasi masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Keputusan tersebut memberikan ruang bagi emas untuk menguat karena pasar sebelumnya sempat memperkirakan adanya peluang kenaikan bunga.
Namun, hasil pemungutan suara The Fed menunjukkan bahwa sebagian pejabat masih mendukung kebijakan yang lebih ketat. Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tetap dapat digunakan apabila inflasi terus bertahan di atas target bank sentral.
Dari Jepang, penguatan yen terjadi setelah otoritas negara tersebut diduga kembali masuk ke pasar valuta asing. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menilai yen masih terlalu murah dan pergerakan mata uang yang terlalu liar dapat mengganggu stabilitas pasar.
Sementara itu, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian investor. Ketegangan geopolitik dapat mendorong permintaan aset aman, tetapi lonjakan harga energi juga berisiko menjaga inflasi tetap tinggi. Dalam kondisi ini, arah emas masih akan sangat dipengaruhi pergerakan dolar, kebijakan The Fed, dan perkembangan konflik Timur Tengah.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id