Minyak Turun, Koalisi Laut Saudi Redakan Pasar
Harga minyak ditutup melemah pada perdagangan Kamis (30/7) setelah pasar mencermati rencana pembentukan koalisi pertahanan maritim yang dipimpin Arab Saudi. Brent turun 1,88% menjadi US$89,03 per barel, sementara WTI melemah 1,03% ke US$83,59 per barel.
Arab Saudi berencana meningkatkan kerja sama keamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Sebanyak 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut.
Pergerakan minyak tetap sangat fluktuatif karena Amerika Serikat dan Iran kembali saling menyerang sasaran militer. Brent sempat melonjak hingga US$93,31, sedangkan WTI menyentuh US$85,94 sebelum berbalik turun.
Risiko pasokan masih tinggi setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Jalur Laut Merah menjadi semakin penting karena aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Konflik juga mulai mengganggu fasilitas energi di negara lain. Serangan drone memicu kebakaran pada dua kapal gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, sementara fasilitas minyak Arab Saudi, terminal ekspor Laut Hitam, dan kilang Rusia turut menghadapi gangguan.
Dampaknya, rencana koalisi maritim dapat meredakan kekhawatiran pasar apabila mampu menjaga jalur pelayaran tetap aman. Namun, meluasnya serangan terhadap kapal dan fasilitas energi membuat harga minyak masih berpotensi kembali melonjak sewaktu-waktu.(arl)
Sumber: Newsmaker.id