Perang Dorong Minyak Melonjak
Harga minyak dunia bertahan tinggi pada akhir pekan dan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Maret. Lonjakan ini terjadi setelah perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Minyak Brent diperdagangkan di atas US$87 per barel, sementara West Texas Intermediate berada di sekitar US$84 per barel pada hari ini Jumat (31/07). Sepanjang Juli, harga Brent telah naik sekitar 23% karena pasar khawatir konflik dapat mengganggu jalur distribusi minyak utama.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling menyerang. Meski aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai membaik, risiko gangguan pasokan masih tinggi karena kawasan tersebut menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Arab Saudi juga membahas pembentukan aliansi bersama puluhan negara untuk melindungi pelayaran di sekitar Laut Merah. Langkah ini dilakukan setelah kelompok Houthi mengancam kapal tanker dan fasilitas minyak, sehingga menambah tekanan terhadap pasar energi.
Risiko pasokan tidak hanya datang dari Timur Tengah. Pengiriman minyak dari Kazakhstan melalui kawasan Laut Hitam kembali terganggu setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker. Kondisi tersebut membuat pasar semakin khawatir terhadap ketersediaan minyak global.
Selama konflik masih berlangsung, harga minyak berpeluang tetap tinggi dan bergerak sangat fluktuatif. Kenaikan energi juga dapat mendorong inflasi dan memperlambat ekonomi dunia, terutama jika jalur pelayaran utama kembali terganggu dalam waktu lama.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id