Minyak Tertahan, Sinyal Diplomasi Iran Muncul
Harga minyak memangkas kenaikannya setelah sempat melonjak pada perdagangan Eropa hari Senin (20/7), setelah Iran menyatakan telah menerima proposal dari sejumlah mediator terkait perang dengan AS. Kabar ini memberi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka di tengah konflik yang terus memanas.
Brent bergerak di sekitar US$88 per barel setelah sebelumnya sempat menembus US$91 per barel. Pergerakan tajam ini menunjukkan pasar minyak masih sangat sensitif terhadap kabar eskalasi maupun peluang meredanya konflik AS-Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bahwa beberapa ide dari mediator telah disampaikan kepada Teheran. Meski belum ada penjelasan lebih rinci, pernyataan tersebut cukup membuat pasar mengurangi sebagian premi risiko perang yang sebelumnya mendorong harga minyak naik.
Sebelumnya, harga minyak melonjak setelah AS dan Iran kembali meningkatkan serangan, termasuk terhadap kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Jalur ini menjadi perhatian utama karena sekitar seperlima aliran minyak dunia melewati kawasan tersebut.
Iran juga menyatakan telah menghentikan empat kapal yang mencoba menggunakan rute tidak aman di Hormuz. Dua kapal disebut mengalami insiden dan terhenti, sementara dua lainnya berbalik arah setelah mendapat peringatan.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil selama status Selat Hormuz belum jelas. Jika diplomasi berkembang positif, Brent bisa terkoreksi lebih jauh. Namun, jika serangan terhadap kapal dan fasilitas energi berlanjut, risiko pasokan tetap besar dan harga minyak berpeluang kembali menguat. (arl)
Sumber : Newsmaker.id