Fluktuasi Minyak Dipicu Ketidakpastian Kesepakatan AS-Iran
Harga minyak berfluktuasi pada Jumat (22/5), seiring pedagang menilai prospek tercapainya kesepakatan perdamaian untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran.
West Texas Intermediate (WTI) naik tipis ke $97,51 per barel, sementara Brent untuk kontrak Juli naik 1,6% menjadi $104,23 per barel pada sesi pagi di New York. Kenaikan ini terjadi saat Asim Munir, kepala staf militer Pakistan dan mediator utama antara Washington dan Tehran, menuju ibu kota Iran, menurut seorang pejabat keamanan Pakistan.
Iran menyatakan bahwa proposal terbaru dari AS telah sebagian menjembatani perbedaan kedua pihak, namun komentar dari Pemimpin Tertinggi Iran terkait penyimpanan uranium di Tehran dan perselisihan soal pungutan di Selat Hormuz menimbulkan ketidakpastian mengenai tercapainya kesepakatan. Pernyataan yang bertentangan mengenai isu-isu utama membuat pasar sulit menilai apakah kedua pihak benar-benar lebih dekat ke kesepakatan setelah ancaman eskalasi beberapa hari terakhir.
Konflik dan penurunan pasokan telah membuat stok minyak dan produk energi global menurun pada tingkat rekor, menurut Goldman Sachs Group Inc.. International Energy Agency (IEA) tetap siap melepas cadangan tambahan jika diperlukan, setelah melakukan pelepasan pertama pada Maret, kata Direktur Eksekutif Fatih Birol pada Kamis.
Sementara itu, konsumen AS masih merasakan dampak inflasi energi. Harga bensin tercatat $4,55 per galon pada Kamis, menurut American Automobile Association, tertinggi menjelang Memorial Day dalam empat tahun terakhir. Survei juga menunjukkan sentimen konsumen jatuh ke level terendah, sementara ekspektasi inflasi jangka panjang memburuk, menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Faktor utama yang dipantau: perkembangan negosiasi AS-Iran, status Selat Hormuz, harga minyak global, dan dampaknya pada inflasi serta sentimen konsumen. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id