Dolar Dekati Level Tertinggi, Investor Pantau Iran dan Fed
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam minggu pada Jumat (22/5), seiring para pedagang menilai kemungkinan tercapainya kesepakatan jangka pendek untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dan potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve jika inflasi terus meningkat.
Perkembangan diplomatik terbaru menunjukkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan untuk membahas proposal penyelesaian konflik AS-Israel, menurut media Iran. Namun, perbedaan pendapat tetap ada terkait stok uranium Iran dan pengendalian Selat Hormuz.
Para trader semakin khawatir bahwa gangguan energi yang berlanjut akan menembus ke harga konsumen inti, yang dapat memicu respons kebijakan moneter yang lebih ketat. Risiko tambahan datang dari potensi aksi militer lanjutan, dengan catatan bahwa agresi dari Presiden Donald Trump terhadap Iran bisa menjadi katalis bagi volatilitas suku bunga dan mendorong Fed mempertimbangkan kenaikan. Saat ini, kontrak Fed funds futures memproyeksikan peluang 54% untuk kenaikan suku bunga pada Desember.
Indeks dolar AS DXY, yang mengukur nilai greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,09% ke 99,28. Euro melemah 0,12% menjadi $1,1604, sementara pound Inggris menguat tipis 0,08% ke $1,344, meski data menunjukkan penurunan penjualan ritel terbesar dalam hampir setahun di April.
Mata uang yang lebih rentan terhadap harga energi tinggi menghadapi tekanan pertumbuhan, yang memperkuat dolar AS. Dolar Australia AUD/USD turun 0,27% ke $0,7128.
Yen Jepang USD/JPY melemah 0,06% menjadi 159,1 per dolar, meski Tokyo kemungkinan baru saja melakukan intervensi beberapa minggu lalu. Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga secara bertahap, sementara bank sentral lain, termasuk ECB, diperkirakan bergerak lebih cepat, membuat yen kurang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil. Data inflasi inti Jepang menunjukkan perlambatan ke level terendah empat tahun pada April, menambah ketidakpastian kebijakan moneter.
Faktor utama yang dipantau: perkembangan negosiasi AS-Iran, status Selat Hormuz, harga energi global, dan arah kebijakan suku bunga Fed dan bank sentral lainnya. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id