Waller The Fed : Kenaikan Suku Bunga Bisa Terjadi Jika Inflasi Tidak Terkendali
Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menegaskan bahwa langkah suku bunga berikutnya bisa berupa kenaikan maupun penurunan, seiring lonjakan harga energi akibat perang AS-Iran.
Dalam pidatonya di Frankfurt bertajuk Policy Risks Have Changed pada Jumat (22/5), Waller mengatakan saat ini posisinya adalah menahan suku bunga hingga dampak konflik lebih jelas, namun ia tidak menutup kemungkinan kenaikan jika inflasi tidak melambat. “Inflasi tidak bergerak ke arah yang benar. Saya mendukung penghapusan bahasa ‘easing bias’ agar jelas bahwa penurunan suku bunga tidak lebih mungkin daripada kenaikan di masa depan,” ujar Waller.
Pada pertemuan April, FOMC mempertahankan suku bunga acuan di 3,5%–3,75%, meski tiga pembuat kebijakan menentang bahasa yang menyiratkan penurunan di masa mendatang. Data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dan inflasi yang meningkat menegaskan bahwa tekanan harga lebih besar daripada risiko perlambatan pertumbuhan akibat konflik.
Survei terbaru juga menunjukkan sentimen konsumen AS jatuh ke level terendah sepanjang sejarah pada Mei, dengan ekspektasi inflasi lima hingga 10 tahun naik menjadi 3,9% per tahun, dan inflasi tahunan satu tahun diproyeksikan 4,8%. Waller menilai pasar tenaga kerja stabil, namun suku bunga saat ini sudah memberikan efek restriktif bagi ekonomi.
“Jika ekspektasi inflasi mulai tidak terkendali, saya tidak ragu mendukung kenaikan suku bunga federal funds rate. Saat ini, tindakan itu masih premature; saatnya menunggu perkembangan konflik dan data lebih lanjut,” tambah Waller.
Pernyataan ini disampaikan menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua Fed baru di Gedung Putih.
Variabel utama yang dipantau: perkembangan inflasi, efek perang AS-Iran terhadap energi, dan langkah kebijakan suku bunga Fed.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id