Damai Iran Buntu, Minyak Tetap Ditopang
Harga minyak bergerak menguat dan menuju kenaikan mingguan, seiring Selat Hormuz tetap efektif tertutup dan upaya mengakhiri perang Iran belum menunjukkan kemajuan. Brent berada di jalur penguatan hampir 6% sepanjang pekan, sementara pasar menilai gangguan pengiriman energi berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan awal.
Pada 12:10 siang waktu Singapura, Brent kontrak Juli naik 1,3% ke US$107,09 per barel. WTI kontrak Juni menguat 1,4% ke US$102,57 per barel, menegaskan premi risiko masih melekat meski sesi perdagangan berfluktuasi.
Dari sisi geopolitik, pesan dari Washington bercampur. Dalam wawancara setelah pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS “tidak membutuhkan” Hormuz terbuka, namun dalam pertemuan lanjutan di Beijing ia juga menegaskan AS ingin Iran tidak memiliki senjata nuklir dan “ingin selat terbuka.” Gedung Putih menyebut perang Iran dan Hormuz dibahas, sementara ringkasan resmi China tidak mencantumkan energi sebagai topik, meski menyebut isu Timur Tengah dibicarakan.
Sementara jalur diplomasi masih tersendat, kondisi di lapangan tetap rapuh. Gencatan senjata yang berlaku sejak awal April bertahan meski beberapa kali terjadi flare-up, namun Washington dan Teheran dinilai belum mendekat pada kesepakatan. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berjalan, dan risiko keamanan pelayaran meningkat setelah sebuah kapal komersial dilaporkan disita oleh pihak tak berwenang di pintu masuk Hormuz dan dibawa ke perairan Iran.
Fundamental pasokan menambah bias ketat. International Energy Agency (IEA) menyatakan pasar dapat tetap “sangat kekurangan pasokan” hingga Oktober bahkan jika permusuhan berakhir bulan depan. Energy Information Administration (EIA) juga melaporkan arus minyak mentah dan bahan bakar melalui Hormuz turun hampir 6 juta barel per hari pada kuartal pertama setelah konflik meletus akhir Februari, memperbesar ketidakpastian suplai, termasuk untuk gas alam ke pelanggan global.
Dengan hanya “setetes” tanker yang keluar dari Teluk Persia sejak konflik dimulai, pasar fisik mulai mencari jalur alternatif. Vitol disebut menawarkan minyak Irak yang berada di luar Hormuz kepada pembeli, memberi sinyal sebagian kargo mungkin berhasil keluar meski arus utama masih tersendat. Fokus pasar berikutnya tertuju pada data persediaan dan ekspor, perkembangan keamanan pelayaran, serta sinyal diplomasi AS–Iran dan peran China—karena ketahanan harga minyak di atas US$100 tetap menjadi kanal utama risiko inflasi dan ekspektasi suku bunga.(asd)
Sumber : Newsmaker.id