Gangguan Teluk Bertahan, Minyak Siap Naik Mingguan
Harga minyak bergerak menguat dan berada di jalur kenaikan mingguan karena Selat Hormuz masih efektif tertutup dan upaya mengakhiri perang Iran belum menunjukkan terobosan. Pada Jumat pagi waktu Singapura, Brent kontrak Juli naik 0,7% ke US$106,51 per barel dan bertambah sekitar 5% sepanjang pekan, sementara WTI kontrak Juni naik 0,6% ke US$101,76.
Gangguan pasokan tetap menjadi penopang utama. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung, sementara kondisi pelayaran di kawasan dinilai tetap berisiko. Di jalur masuk Hormuz, sebuah kapal komersial dilaporkan disita oleh personel tak berwenang dan dibawa ke perairan Iran, menambah premi risiko pada pengiriman energi.
Arus kapal keluar dari Teluk Persia juga masih sangat terbatas, menahan suplai minyak dan bahan bakar ke pelanggan global. Data pemerintah AS menyebut aliran minyak mentah dan bahan bakar melalui Hormuz turun hampir 6 juta barel per hari pada kuartal pertama sejak permusuhan dimulai akhir Februari, memperjelas besarnya disrupsi logistik di titik sempit tersebut.
Di sisi diplomasi, Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping pada Kamis. Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin membahas perlunya menjaga Hormuz tetap terbuka demi perdagangan energi, serta peluang peningkatan arus minyak AS ke China. Namun ringkasan resmi dari pihak China tidak mencantumkan energi sebagai topik, meski menyebut isu Timur Tengah dibahas. Trump juga memberi sinyal tekanan militer terhadap Iran masih berlanjut melalui unggahan di media sosial.
Fundamental pasokan global menambah dukungan. International Energy Agency (IEA) menilai perang telah menekan persediaan minyak dunia dengan laju yang sangat cepat, dan pasar dapat tetap “sangat kekurangan pasokan” hingga Oktober bahkan jika permusuhan berakhir bulan depan. Di pasar fisik, Vitol menawarkan minyak Irak kepada pembeli, sinyal bahwa sebagian kargo kemungkinan berhasil keluar dari Teluk meski arus masih tersendat.
Kenaikan minyak juga kembali mengangkat risiko inflasi, yang menurut data AS pekan ini mulai terasa dan menambah tekanan politik domestik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu November. Dengan pasokan ketat dan jalur diplomasi belum bergerak, pelaku pasar cenderung mempertahankan bias kehati-hatian, sambil memantau apakah kondisi di Hormuz membaik atau kembali memburuk.
Ke depan, pasar akan menunggu konfirmasi peningkatan arus kapal, perkembangan negosiasi Washington–Teheran, serta sinyal dari Beijing terkait peran China pada stabilisasi jalur energi. Variabel yang paling menentukan tetap sama: status blokade pelabuhan Iran, keamanan pelayaran di sekitar Hormuz, dan data persediaan global yang akan menunjukkan seberapa cepat keketatan pasar menyerap buffer pasokan.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id