Gencatan Rapuh, Arus Hormuz Belum Pulih
Harga minyak cenderung stabil menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, dengan perang Iran yang belum menunjukkan tanda menuju penyelesaian cepat tetap menjadi latar utama pasar. Pelaku pasar menahan posisi karena arah diplomasi dan kebijakan energi diperkirakan banyak ditentukan oleh sinyal dari pertemuan tersebut.
Di Asia, Brent bergerak di bawah US$106 per barel setelah turun 2% pada sesi sebelumnya. Pada 08:02 pagi waktu Singapura, Brent untuk pengiriman Juli berada di US$105,52 per barel, sementara WTI pengiriman Juni relatif datar di US$100,99. Trump mengatakan pekan ini bahwa pembicaraan dagang akan diprioritaskan ketimbang konflik Timur Tengah, meski China merupakan pembeli terbesar minyak Iran.
Dari sisi fundamental, International Energy Agency (IEA) menilai perang telah menekan persediaan minyak global dengan laju yang sangat cepat, dan pasar berisiko tetap “sangat kekurangan pasokan” hingga Oktober bahkan jika konflik berakhir bulan depan. Tekanan ini terutama terkait gangguan logistik dan terbatasnya arus pengiriman dari kawasan Teluk Persia.
Penutupan efektif Selat Hormuz masih menjadi titik krusial. Menurut Energy Information Administration (EIA), arus minyak mentah dan bahan bakar melalui Hormuz turun hampir 6 juta barel per hari pada kuartal pertama sejak permusuhan dimulai pada akhir Februari, dan selama perang hanya sedikit kapal tanker yang berhasil keluar dari Teluk Persia. Walau gencatan senjata berlaku sejak awal April, kemajuan menuju kesepakatan damai dinilai minim sehingga pemulihan arus suplai terus tertunda.
Tekanan pasokan Iran juga dipengaruhi blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Citra satelit yang dikumpulkan Bloomberg News menunjukkan dermaga ekspor di terminal utama Pulau Kharg kembali kosong pada Selasa, dan untuk periode keempat berturut-turut ketika satelit menangkap aktivitas fasilitas tersebut, tidak terlihat kapal tanker. Di sisi lain, menjelang KTT Trump–Xi, AS juga mengancam perbankan dan menjatuhkan sanksi tambahan terkait penjualan minyak Iran ke China.
Risiko tambahan datang dari berakhirnya waiver sanksi AS yang sebelumnya mengizinkan pembelian minyak Rusia “on water” pada akhir pekan ini. Kondisi ini berpotensi membuat kilang di India salah satu pembeli besar lebih rentan, terutama setelah impor dalam jumlah besar tercatat sepanjang bulan ini. Pasar kini menunggu apakah pertemuan Trump–Xi memberi sinyal de-eskalasi atau justru memperpanjang ketidakpastian pasokan, dengan Hormuz dan kebijakan sanksi tetap menjadi penggerak utama arah harga.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id