• Tue, May 5, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

5 May 2026 12:18  |

Minyak Melemah, Risiko Hormuz Tak Kunjung Reda!

Harga minyak sedikit melemah pada perdagangan Selasa (05/05), memangkas sebagian kenaikan tajam pada awal pekan. Brent bergerak mendekati US$113 per barel dan sempat melonjak 5,8% pada Senin, sementara WTI berada di sekitar US$104 per barel. Meski terkoreksi, harga minyak masih bertahan di level tinggi karena pasar terus memantau ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Ketegangan meningkat setelah militer AS menyatakan berhasil menangkis serangan Iran saat memandu dua kapal berbendera AS melewati Selat Hormuz. Di saat yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan bahwa sebuah terminal minyak di Fujairah terkena serangan. Peristiwa ini membuat gencatan senjata empat pekan antara Washington dan Teheran kembali diragukan.

AS saat ini berupaya membuka jalur bagi kapal-kapal yang tertahan di kawasan tersebut. Namun, langkah itu justru memicu respons dari Iran, yang memperluas zona kendalinya di sekitar selat. Sejumlah kapal dilaporkan mulai menjauh dari jalur utama dan berkumpul di dekat Dubai, menandakan pelaku pelayaran masih melihat risiko keamanan yang tinggi.

Secara fundamental, Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian pasar minyak global. Jalur ini sangat penting bagi distribusi energi dunia, sehingga gangguan terhadap lalu lintas kapal dapat memperketat pasokan dan menahan harga minyak tetap tinggi. Analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak lebih jauh jika konflik kembali berlanjut dan merusak lebih banyak infrastruktur energi.

Di sisi lain, lonjakan harga energi mulai menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun naik menembus 5% karena pasar mulai memperkirakan The Fed bisa kembali mengambil sikap lebih hawkish jika tekanan harga terus meningkat. Kondisi serupa juga terlihat di Asia, termasuk Filipina, yang mencatat inflasi tahunan tinggi karena ketergantungan besar pada impor minyak dari Timur Tengah.

Secara keseluruhan, koreksi minyak saat ini belum menunjukkan risiko telah mereda. Harga Brent masih ditopang oleh ketidakpastian geopolitik, gangguan jalur Hormuz, dan ancaman terhadap fasilitas energi. Selama belum ada kepastian bahwa jalur pelayaran kembali aman, minyak berpotensi tetap mahal dan rawan bergerak tajam mengikuti perkembangan konflik AS-Iran.

5 Inti Poin: 

- Brent turun mendekati US$113 setelah melonjak 5,8% pada Senin.

- AS dan Iran kembali terlibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

- Terminal minyak Fujairah terkena serangan, menambah risiko pasokan energi.

- Selat Hormuz belum aman, membuat harga minyak tetap ditopang premi risiko.

- Lonjakan energi memicu kekhawatiran inflasi, termasuk peluang The Fed kembali hawkish. (asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai