Emas Loyo di Tengah Isu Hormuz
Harga emas melemah pada awal perdagangan Senin (04/05) di perdagangan Eropa, memperpanjang tekanan setelah mencatat penurunan mingguan kedua beruntun. Fokus pasar tertuju pada perkembangan menuju potensi kesepakatan AS–Iran, serta rencana Presiden AS Donald Trump untuk mulai “mengawal” sebagian kapal melalui Selat Hormuz.
Bullion sempat turun hingga 0,9% dan bergerak di sekitar US$4.575 per ons, sebelum spot gold tercatat melemah 0,8% ke US$4.577,33 per ons pada 09.09 waktu London. Trump menyatakan AS akan mulai mengarahkan kapal-kapal yang tidak terlibat konflik Iran keluar melalui Hormuz mulai Senin, sementara harga minyak cenderung stabil karena pelaku pasar mempertanyakan seberapa efektif rencana tersebut.
Di sisi geopolitik, Trump juga memberi sinyal bahwa proposal damai terbaru dari Iran mungkin belum cukup memenuhi ekspektasinya. Konflik yang menahan harga energi tetap tinggi ikut mengurangi harapan pemangkasan suku bunga bank sentral, sebuah kombinasi yang umumnya menjadi tekanan bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas, dengan harga emas disebut sudah turun sekitar 12% sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar dan kekhawatiran inflasi berbasis energi yang memicu nada lebih hawkish dari bank sentral utama, menurut analis komoditas Motilal Oswal Financial Services. Dalam konteks ini, pergerakan emas menjadi lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan arah dolar, terutama saat pasar menilai ulang jalur kebijakan moneter.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada pengumuman rencana pembiayaan tiga bulan ke depan dari Departemen Keuangan AS, rangkaian pidato pejabat The Fed, serta kalender data ekonomi yang padat yang memuncak pada rilis tenaga kerja bulanan. Di pasar logam lain, perak turun 1,4% sementara platinum dan palladium juga melemah, sedangkan indeks dolar Bloomberg tercatat relatif datar. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id