Awas! Brent Siap Meledak?
Harga minyak Brent bergerak di sekitar US$113,16 per barel dan masih menunjukkan tekanan naik yang kuat. Dari sisi fundamental, pasar minyak belum sepenuhnya tenang karena ketegangan AS-Iran dan gangguan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang menopang harga.
Secara fundamental, risiko pasokan masih sangat dominan. Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi minyak kapal global, sehingga setiap gangguan terhadap, pelabuhan, atau infrastruktur energi dapat langsung mendorong harga minyak naik. Selama jalur ini belum benar-benar aman, pasar masih akan memasukkan premi risiko geopolitik ke harga Brent.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi dan meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar khawatir pasokan minyak bisa terganggu lebih dalam. Kondisi ini membuat Brent sulit turun jauh, meskipun ada sentimen tambahan produksi dari OPEC+ atau potensi koreksi teknikal setelah kenaikan tajam.
Dari sisi teknikal, Brent masih cenderung bullish terbatas selama mampu bertahan di atas area US$112,50–US$113,00. Area ini menjadi pendukung penting untuk perdagangan hari ini. Jika harga tetap bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka menuju US$114,50–US$115,30.
Namun, jika Brent berhasil menembus US$115,30 dengan kuat, target kenaikan berikutnya bisa mengarah ke US$116,50, bahkan US$118,00 jika muncul kembali headline eskalasi konflik. Sebaliknya, jika harga gagal bertahan di atas US$112,50, tekanan koreksi dapat membawa Brent turun ke US$111,00, lalu US$110,00 sebagai dukungan psikologis.
Secara pendapat, Brent hari ini masih lebih banyak ditopang oleh risiko geopolitik dibandingkan tekanan dari sisi pasokan tambahan. Bias utama masih bullish terbatas, tetapi trader perlu berhati-hati karena harga sudah berada di level tinggi dan rawan aksi ambil untung. Selama Hormuz belum aman dan konflik AS-Iran belum mereda, Brent masih bertahan mahal.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id