Oil Makin Panas, Ini Arah Selanjutnya!
Harga minyak masih mempertahankan sebagian besar kenaikan tajam setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan saling berbalas serangan, sementara infrastruktur energi kembali menjadi sasaran dan sejumlah kapal terkena dampak di sekitar Selat Hormuz.
Brent bergerak di dekat US$114 per barel setelah melonjak hampir 6% pada perdagangan Senin. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI berada di bawah US$105 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa pasokan minyak global kembali menghadapi risiko besar.
Militer AS menyatakan berhasil menghadang serangan Iran ketika memandu dua kapal berbendera AS melalui Selat Hormuz. Di Uni Emirat Arab, terminal minyak di Fujairah juga dilaporkan terkena serangan. Peristiwa ini membuat gencatan senjata empat pekan antara Washington dan Teheran semakin rapuh.
Ketegangan tersebut terjadi saat AS berupaya membuka jalur Hormuz bagi kapal-kapal yang tertahan. Namun, Presiden Donald Trump menyebut perang masih dapat berlangsung dua hingga tiga pekan lagi. Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa risiko gangguan pasokan energi belum akan mereda dalam waktu dekat.
Analis menilai, selama belum ada kesepakatan antara AS dan Iran, Selat Hormuz berpotensi tetap sulit dilalui. Kondisi ini membuat harga minyak tetap berada dalam tekanan naik, terutama karena jalur tersebut merupakan salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi global.
Lonjakan harga energi juga memicu kekhawatiran inflasi dan memperberat prospek pertumbuhan ekonomi. Di pasar obligasi AS, imbal hasil tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak Juli dan menembus 5%, karena trader mulai memperkirakan The Fed mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan harga.
5 Inti Poin
- Brent bertahan dekat US$114 per barel setelah melonjak hampir 6% pada perdagangan sebelumnya.
- AS dan Iran kembali saling berbalas serangan, membuat gencatan senjata semakin rapuh.
- Terminal minyak Fujairah di UAE dilaporkan terkena serangan, menambah risiko pasokan energi.
- Selat Hormuz masih sulit dilalui, sehingga tekanan naik pada harga minyak tetap kuat.
- Lonjakan oil memicu kekhawatiran inflasi, bahkan membuka spekulasi The Fed bisa kembali hawkish.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id