Minyak Berbalik Turun, Namun Brent Masih Bertahan Dekat Level Tertinggi Sejak Juli 2022
Harga minyak berbalik arah pada Kamis setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Iran “tidak lagi mampu” memperkaya uranium atau membuat rudal balistik, menyusul hampir tiga pekan serangan AS dan Israel. Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar, setelah sebelumnya minyak sempat melonjak tajam karena serangan Iran terhadap infrastruktur energi penting di Timur Tengah yang memicu alarm gangguan pasokan.
Pada awal sesi, minyak sempat memanas karena pasar merespons eskalasi serangan ke aset energi, sebelum kemudian berbalik saat pelaku pasar juga mencerna sikap bank sentral terkait shock minyak. Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE) sama-sama memberi sinyal pendekatan “wait-and-watch” seiring perang masih berkembang, menandakan kebijakan moneter belum akan bereaksi secara agresif hanya karena lonjakan energi jangka pendek.
Kontrak berjangka Brent (benchmark global) sempat melonjak hingga sekitar 10,9% ke $119,11 per barel pada perdagangan awal Kamis, lalu memangkas kenaikan secara bertahap hingga komentar Netanyahu mempercepat pembalikan. Brent terakhir turun sekitar 0,8% ke $106,54 per barel (15:41 ET), namun tetap bertahan dekat level tertinggi sejak akhir Juli 2022.
Sementara itu, WTI (benchmark AS) sebelumnya sempat naik hingga sekitar 5,2% ke $100,44 per barel, tetapi kemudian berbalik turun sekitar 1,5% ke $94,01 per barel.
Dalam konferensi pers, Netanyahu menyatakan Iran “tidak punya kapasitas” untuk memperkaya uranium atau membuat rudal balistik setelah 20 hari perang. Ia juga mengatakan Israel bertindak sendiri saat menyerang ladang South Pars, dan menyebut Presiden Donald Trump telah memintanya menahan diri agar serangan serupa tidak dilakukan lagi ke depan.
Sebelumnya, minyak sudah memperpanjang kenaikan dari sesi sebelumnya yang dipicu serangan udara ke South Pars—bagian Iran dari deposit gas alam terbesar di dunia. Iran kemudian membalas dengan serangan ke fasilitas energi di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, setelah sebelumnya mengancam sejumlah kompleks penting seperti Samref dan Jubail (Saudi), Al Hosn (UEA), serta kilang Ras Laffan (Qatar).
Trump, dalam unggahan media sosial bernada keras, mengatakan AS tidak mengetahui serangan Israel ke South Pars, dan memperingatkan Iran agar tidak melakukan pembalasan lanjutan. Trump juga menyatakan Israel tidak akan menyerang South Pars lagi, serta mengancam AS akan “menghancurkan besar-besaran” ladang gas tersebut jika Iran kembali membalas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id