Dolar Terkoreksi Tajam saat Bank Sentral Eropa Soroti Risiko Inflasi
Dolar AS melemah tajam setelah bank sentral utama Eropa menyoroti risiko inflasi, sementara European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) sama-sama mempertahankan suku bunga pada Kamis (19/3). Pelemahan dolar terjadi setelah reli pada hari sebelumnya, ketika komentar hawkish Ketua Fed Jerome Powell dan lonjakan harga minyak sempat mendorong USD menguat.
Indeks Bloomberg Dollar Spot turun sekitar 0,7%, penurunan terbesar sejak 27 Januari. Menurut Mark McCormick, chief FX strategist BMO Capital Markets, pelemahan ini lebih banyak dipicu oleh pembersihan posisi (positioning) yang sudah “terlalu penuh” ketimbang perubahan cerita fundamental. Ia menyebut pergerakan ini sebagai “squeeze” ketika pasar menimbang dampak inflasi dan pertumbuhan.
Di pasar energi, Brent diperdagangkan di sekitar $105 per barel dan melemah setelah AS mengizinkan pengiriman serta penjualan minyak Rusia—kabar yang meredakan sebagian kekhawatiran pasokan. Di pasar obligasi, yield Treasury bervariasi: yield 10 tahun turun tipis 1 bps ke 4,25%, sementara yield 2 tahun naik 3 bps ke 3,80%, mencerminkan tarik-menarik antara risiko inflasi dan prospek kebijakan suku bunga.
Pergerakan mata uang menunjukkan pelemahan dolar yang luas. USD/JPY turun 1,4% ke sekitar 157,60, sementara yen menguat tajam. Di saat yang sama, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu Presiden Donald Trump di Oval Office pada Kamis, dengan kedua pemimpin membahas upaya stabilisasi harga energi—isu yang kini menjadi fokus karena shock minyak berisiko memicu inflasi impor dan volatilitas pasar.
Di Eropa, GBP/USD naik sekitar 1,3% ke 1,3427, penguatan harian terbesar sejak November 2023, setelah BoE menahan suku bunga. EUR/USD juga menguat sekitar 1,1% ke 1,158, kenaikan terbesar sejak 27 Januari, seiring respons pasar terhadap pesan ECB soal risiko inflasi.
Di kawasan Asia-Pasifik, AUD/USD naik 0,9% ke 0,7083 setelah data menunjukkan tingkat pengangguran Australia tetap relatif rendah pada Februari dan pertumbuhan pekerjaan berlanjut—menguatkan pandangan Reserve Bank of Australia bahwa ekonomi masih cukup tangguh menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat. NZD/USD turut melonjak 1,3% ke 0,5872.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id