• Fri, Mar 20, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

20 March 2026 00:08  |

Iran Serang Situs Energi, Menantang Seruan Trump untuk Menahan Diri

Iran meningkatkan serangan terhadap aset energi di Timur Tengah meski Presiden AS Donald Trump menyerukan penahanan diri, dengan rentetan serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas yang memicu lonjakan harga baru. Republik Islam itu menarget sejumlah lokasi di negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab dalam gelombang serangan drone dan misil pada Kamis, sebagai respons atas serangan Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars sehari sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan di X bahwa respons Iran atas serangan Israel “baru menggunakan sebagian kecil” dari kekuatannya, dan alasan Iran sempat menahan diri adalah menghormati permintaan de-eskalasi. Namun serangan terbaru dari kedua pihak terhadap fasilitas energi justru mendorong konflik kian memanas menjelang akhir pekan ketiga perang, tanpa tanda gencatan senjata dalam waktu dekat.

Eskalasi ini segera terasa di pasar. Harga minyak dan gas melonjak kembali, sementara saham global melanjutkan pelemahan dan obligasi tertekan, karena investor semakin khawatir perang akan mendorong inflasi lebih tinggi sekaligus menggerus pertumbuhan ekonomi. Minyak Brent dilaporkan sempat melonjak tajam pada Kamis, mendekati level tertinggi sejak 2022, sedangkan gas alam Eropa ikut meroket dan semakin menjauh dari level pra-perang.

Di lapangan, Arab Saudi mengatakan sebuah drone menghantam kilang Samref di Laut Merah—jalur keluar vital bagi eksportir minyak terbesar dunia ketika Selat Hormuz masih efektif tersumbat. Di Qatar, kompleks industri Ras Laffan—rumah bagi fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia—disebut mengalami “kerusakan luas” setelah serangan misil Iran memicu kebakaran. Uni Emirat Arab juga menutup sebuah fasilitas gas besar setelah serpihan jatuh akibat intersepsi misil.

Laporan terpisah menyebut serangan Iran terhadap Qatar merusak fasilitas yang mewakili sebagian kapasitas ekspor LNG negara tersebut dan proses pemulihannya dapat memakan waktu sangat lama. Situasi ini meningkatkan kemungkinan lebih banyak negara ikut terseret konflik bersama AS dan Israel, terutama jika serangan energi berlanjut dan risiko pasokan global makin parah.

Peringatan keras juga muncul dari Riyadh. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud mengatakan penahanan diri kerajaan “tidak tanpa batas” dan Saudi berhak mengambil tindakan militer bila diperlukan, seraya menyebut hubungan dengan Teheran “benar-benar hancur.” Pernyataan ini mempertebal risiko eskalasi regional yang lebih luas.

Trump, dalam unggahan media sosial pada Rabu malam, menyatakan “tidak boleh ada serangan Israel lagi” terkait South Pars dan meminta Iran menahan diri. Ia juga mengancam bahwa jika Iran terus menyerang aset Qatar, AS akan menghancurkan seluruh South Pars dengan kekuatan yang belum pernah disaksikan Iran. Pada Kamis, Trump kembali mengatakan kampanye akan segera berakhir dan ia tidak berencana mengirim pasukan darat.

Serangkaian serangan terbaru juga disebut mencakup penembakan misil balistik ke arah Riyadh yang diklaim berhasil digagalkan Saudi, serangan drone yang memicu kebakaran di dua kilang di Kuwait, dan gangguan pasokan gas yang berdampak pada pembangkit listrik Irak setelah Iran menghentikan aliran gas dari South Pars pasca serangan Israel. Sejumlah analis menilai pemboman South Pars menandakan perubahan strategi: menggerus infrastruktur ekonomi Iran untuk membatasi kemampuan bertahan dalam perang.

Konflik kini disebut memasuki hari ke-20 dan telah menimbulkan korban jiwa besar di kawasan, dengan sebagian besar korban berada di Iran. Sementara itu, upaya membuka kembali Selat Hormuz—jalur kritis bagi sekitar seperlima aliran minyak dan LNG global—belum membuahkan hasil, sehingga risiko kerusakan jangka panjang pada infrastruktur energi dan pasokan dinilai meningkat.

Dampaknya mulai menyebar ke ekonomi domestik AS. Harga bensin AS dilaporkan melonjak dalam beberapa pekan terakhir dan menambah tekanan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu November. Wakil Presiden JD Vance menyebut lonjakan itu “sementara,” dan mengatakan pemerintah melakukan segala cara agar harga tidak terus naik.

Sebagai bagian dari respons, Trump mengeluarkan waiver sementara terhadap aturan pelayaran lama untuk menekan biaya distribusi komoditas energi di dalam negeri, dan Vance bersama pejabat kunci lain dijadwalkan bertemu eksekutif minyak pada Kamis. Di saat bersamaan, Israel juga meningkatkan ofensif di Lebanon melawan Hizbullah yang didukung Iran, menambah kompleksitas konflik multi-front.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
GLOBAL

Ancaman BRICS Belum Berakhir!

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif 10% atas impor dari negara-negara anggota BRICS. Dalam komen...

21 July 2025 08:13
BIAS23.com NM23 Ai