Minyak Stabil, Dialog Pasar Pantau AS–Iran & Dolar Menguat
Harga minyak naik tipis di sesi Asia pada Selasa (3/2) setelah anjlok tajam sehari sebelumnya. Brent kontrak April naik 0,2% ke US$66,42/barel, sementara WTI naik 0,3% ke US$61,90/barel—pasar mulai “tenang” karena premi risiko geopolitik berkurang.
Pemicu utamanya: AS dan Iran menjadwalkan kelanjutan pembicaraan nuklir pekan ini di Turki, dengan pertemuan yang mengarah ke sesi Jumat di Istanbul antara utusan AS Steve Witkoff dan Menlu Iran Abbas Araqchi.
Kabar negosiasi ini mengungkap kekhawatiran pasar soal potensi konflik regional, sehingga “biaya risiko” yang sempat nempel di harga minyak mulai luntur. Namun pasar juga sadar: negosiasi nuklir Iran sudah sering mentok di masa lalu, jadi hasil Jumat nanti tetap jadi penentu apakah ketegangan benar-benar turun atau cuma jeda sementara.
Selain geopolitik, minyak juga ditahan oleh dolar AS yang menguat. Dolar rebound setelah Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve berikutnya—yang menilai pasar lebih “hawkish” (lebih ketat soal inflasi) dibandingkan harapan sebagian pelaku pasar. Dolar yang lebih kuat biasanya menekan komoditas karena harga jadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar.
Fokus lain yang ikut mengganggu pasar minyak: negosiasi dagang India–AS yang membahas isu impor energi. Washington mendorong India mengurangi pembelian minyak Rusia, dan ada perdebatan pasokan ke AS/Venezuela—masalah yang juga terkait tekanan geopolitik pada perang Ukraina.(asd)
Sumber : Newsmaker.id