Emas Turun ke Bawah US$4.000, Konflik Timur Tengah Jadi Tekanan
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Kamis, meskipun dua data inflasi Amerika Serikat sebelumnya keluar lebih rendah dari perkiraan. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$3.983 per troy ounce, turun 1,90% secara harian.
Data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS untuk Juni sama-sama berada di bawah ekspektasi pasar. Namun, emas gagal mendapat dorongan kuat karena data tersebut hanya menunda ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, bukan menghapus sepenuhnya risiko kenaikan suku bunga.
Tekanan terhadap emas juga datang dari rebound dolar AS dan imbal hasil Treasury setelah dua hari berturut-turut melemah. Penguatan dolar dan yield membuat emas kurang menarik, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Pejabat The Fed masih menegaskan pentingnya membawa inflasi kembali secara berkelanjutan ke target 2%. Di saat yang sama, pasar tenaga kerja AS dinilai mulai stabil, sehingga bank sentral masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun jika inflasi kembali sulit turun.
Data ekonomi terbaru juga menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat. Penjualan ritel naik 0,2% secara bulanan pada Juni, sesuai ekspektasi, sementara klaim awal pengangguran turun ke 208.000, lebih rendah dari perkiraan 217.000. Kondisi ini ikut memperkuat pandangan bahwa tekanan suku bunga terhadap emas belum sepenuhnya hilang.
Dari sisi dampak market, emas masih memiliki bias melemah selama harga bertahan di bawah area psikologis US$4.000. Ketegangan AS-Iran yang berlanjut dan potensi gangguan jalur Laut Merah membuat harga minyak WTI naik mendekati US$80 per barel, sehingga risiko inflasi energi kembali membayangi. Jika dolar dan yield terus menguat, XAU/USD berpotensi tetap tertekan, sementara aset global lain juga bisa bergerak lebih volatil. (asd)
Sumber: Newsmaker.id