Hormuz Genting, Minyak Mencari Jajakannya
Harga minyak kembali menguat untuk hari keempat berturut-turut karena konflik di Selat Hormuz belum mereda. Amerika Serikat terus melancarkan serangan ke Iran dengan alasan ingin mengamankan jalur pelayaran di salah satu titik energi paling penting dunia tersebut.
Brent bergerak di sekitar US$84 per barel setelah melonjak 12% dalam tiga sesi sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI berada di dekat US$80 per barel. Kenaikan ini membuat minyak berada di level tertinggi sekitar satu bulan, setelah sebelumnya sempat jatuh tajam hampir 30% pada kuartal II.
Ketegangan meningkat setelah AS kembali menyerang Iran pada Rabu dan menyatakan telah melumpuhkan sebuah tanker minyak kosong yang menuju pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump juga berjanji akan meningkatkan serangan sampai Teheran berhenti menyerang kapal di Selat Hormuz dan bersedia membuka kembali jalur energi tersebut.
Iran sendiri belum menunjukkan tanda akan mundur. Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS menghentikan serangan dan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kondisi ini membuat pasar khawatir karena Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan LNG dari kawasan Teluk.
Risiko pasokan energi juga datang dari Rusia. Serangan Ukraina yang hampir terjadi setiap hari terhadap kilang dan tanker Rusia menambah tekanan baru bagi pasar minyak global. Artinya, pasar bukan hanya mencemaskan Hormuz, tetapi juga gangguan pasokan dari Rusia yang bisa memperketat suplai energi dunia.
Dampaknya ke market, harga minyak berpotensi tetap tinggi selama konflik Hormuz belum selesai. Jika gangguan jalur pelayaran berlangsung beberapa minggu, tekanan inflasi global bisa kembali naik dan membuat bank sentral lebih berhati-hati soal suku bunga. Namun, jika lalu lintas kapal kembali lancar dan ketegangan mereda, sebagian premi risiko pada harga minyak bisa mulai berkurang.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id