Konsumen AS Tahan Banting di Tengah Risiko Minyak
Penjualan ritel Amerika Serikat naik tipis pada Juni, menunjukkan konsumsi rumah tangga masih cukup kuat meski tekanan inflasi dan risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Data Census Bureau pada Kamis (16/7) menunjukkan nilai belanja ritel naik 0,2% di Juni, setelah sebelumnya direvisi naik 1% pada Mei.
Kenaikan utama sebenarnya lebih kuat jika tidak memasukkan penjualan di SPBU. Di luar kategori gasoline station, penjualan ritel meningkat 0,7%. Penurunan penerimaan SPBU sebesar 5,3% menjadi penahan utama karena harga bensin nasional turun sekitar 50 sen per galon pada Juni.
Sebanyak 7 dari 13 kategori ritel mencatat kenaikan. Penjualan online atau nonstore retailers melonjak 1,9%, kenaikan terbesar dalam hampir satu tahun, kemungkinan terbantu oleh event Prime Day Amazon. Kategori barang diskresioner seperti perlengkapan olahraga, hobi, elektronik, dan peralatan rumah tangga juga ikut menguat.
Belanja kendaraan bermotor dan suku cadang naik paling tinggi sejak Juli 2025, sementara pengeluaran di restoran dan bar ikut meningkat tipis. Data ini memberi sinyal bahwa konsumen AS masih memiliki daya beli, terutama karena harga bensin yang lebih murah memberi ruang tambahan untuk belanja lain.
Namun, prospek ke depan belum sepenuhnya aman. Ketegangan AS-Iran kembali mendorong harga minyak naik dan mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Jika harga energi kembali melonjak, tekanan inflasi bisa muncul lagi dan mengurangi ruang belanja rumah tangga dalam beberapa bulan mendatang.
Dampaknya ke market, data retail sales yang masih positif bisa mendukung dolar dan yield karena menunjukkan ekonomi AS tetap tangguh. Namun, karena inflasi CPI dan PPI sebelumnya lebih jinak, pasar tetap menilai The Fed belum perlu terburu-buru menaikkan suku bunga. Fokus berikutnya ada pada harga minyak, data tenaga kerja, dan arah konsumsi AS menjelang keputusan The Fed. (arl)
Sumber : Newsmaker.id