Harga Emas Tertahan di Tengah Tarik-menarik Sentimen
Newsmaker.id - Harga emas melemah tipis pada perdagangan Asia Kamis pagi, 16 Juli 2026, setelah bergerak volatil dalam beberapa sesi terakhir. Emas spot turun sekitar 0,1% ke kisaran US$4.057 per troy ons karena investor masih mempertimbangkan arah dolar Amerika Serikat, kebijakan Federal Reserve, dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pergerakan emas masih mendapatkan dukungan dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Pelemahan inflasi konsumen dan produsen telah mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga The Fed, sekaligus menekan imbal hasil obligasi AS. Sebelumnya, harga emas sempat melonjak lebih dari 2% setelah laporan inflasi mendorong dolar AS turun sekitar 0,6%.
Namun, penguatan emas tertahan karena dolar AS mulai stabil dan pasar belum sepenuhnya menghapus peluang kenaikan suku bunga. Presiden The Fed New York John Williams menilai inflasi AS kemungkinan telah mencapai puncaknya, tetapi tingkatnya masih terlalu tinggi dan tetap berada jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.
Investor juga mencermati kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut dapat mendukung emas melalui permintaan aset aman, tetapi lonjakan minyak juga berisiko kembali meningkatkan inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pasar selanjutnya menantikan data penjualan ritel, klaim pengangguran, dan pernyataan pejabat The Fed untuk menentukan arah emas berikutnya.
Dampak terhadap Market :
Emas: Cenderung bergerak konsolidatif. Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga memberikan dukungan, tetapi stabilnya dolar dan kekhawatiran inflasi energi membatasi penguatan.
Dolar AS: Pemulihan dolar dapat menekan emas karena membuat logam mulia lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sebaliknya, kegagalan DXY bertahan di area 100,50 dapat membantu emas kembali menguat.
Minyak: Kenaikan minyak memiliki dampak ganda. Konflik yang semakin panas meningkatkan permintaan emas sebagai aset aman, tetapi mahalnya energi dapat menghidupkan kembali inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga.(CP)