Trump Klaim AS Kuasai Hormuz, Tuntutan Ganti Rugi Peruncing Konflik dengan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Angkatan Laut AS kini memegang kendali penuh atas Selat Hormuz setelah operasi penyisiran ranjau di kawasan tersebut. Trump mengatakan jalur strategis itu pada dasarnya telah terbuka dan menegaskan bahwa Washington saat ini menjadi satu-satunya pihak yang memiliki kendali penuh atas perairan tersebut. Pernyataan itu muncul ketika ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat, dengan isu kompensasi perang menjadi titik perselisihan terbaru kedua negara.
Berbicara kepada wartawan di Oval Office pada Senin, Trump menggambarkan posisi militer AS di Hormuz sebagai “tembok baja”. Ia mengakui Iran masih sesekali menempatkan ranjau di kawasan tersebut, namun menyatakan Angkatan Laut AS mampu mendeteksi dan menyingkirkannya. Washington diketahui telah mempertahankan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran sejak pertengahan April, sementara Teheran bersikeras bahwa Selat Hormuz belum akan dibuka sepenuhnya sebelum tuntutannya dipenuhi.
Pemerintah Iran sebelumnya menetapkan sejumlah syarat untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, mengatakan Washington harus mencabut blokade laut dan sanksi, menarik pasukan Amerika dari kawasan, membayar kompensasi perang, serta melepaskan aset Iran yang dibekukan. Iran juga menuntut penghentian serangan AS terhadap kelompok-kelompok sekutunya di kawasan. Pembicaraan Iran dengan Oman mengenai pengaturan jalur pelayaran sejauh ini juga disebut tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya.
Trump kemudian membalas tuntutan tersebut dengan mengajukan klaim kompensasi kepada Iran. Melalui unggahan di Truth Social, ia mengatakan Iran justru seharusnya membayar Amerika Serikat atas korban tewas maupun terluka dalam berbagai serangan yang dikaitkan dengan Teheran, termasuk serangan bom pinggir jalan. Trump juga menyinggung warga Iran yang menurutnya telah menjadi korban tindakan rezim selama beberapa dekade terakhir. Saling tuntut mengenai reparasi ini semakin memperumit upaya diplomasi antara Washington dan Teheran.
Di tengah kebuntuan tersebut, Trump mengisyaratkan bahwa AS tidak terburu-buru melancarkan serangan militer baru dan lebih memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus meningkat. Pemerintah Iran membantah klaim bahwa sanksi Amerika telah melumpuhkan perekonomiannya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menilai Washington terus mengandalkan sanksi setiap kali jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan, bahkan meningkatkan tekanannya ketika kebijakan tersebut dinilai gagal.
Ketidakpastian mengenai Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar energi global karena sebelum konflik, jalur tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Selama Washington dan Teheran belum menemukan titik temu terkait blokade, sanksi, kompensasi, dan keamanan pelayaran, premi risiko geopolitik berpotensi tetap menjaga harga minyak pada level tinggi.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id