Hormuz Belum Jelas, Minyak Bertahan Tinggi
Harga minyak bertahan tinggi pada perdagangan Selasa (11/08) setelah harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz kembali memudar. Brent berada di sekitar US$87,70 per barel setelah melonjak sekitar 10% dalam empat sesi terakhir, sementara WTI berada di atas US$82.
Lonjakan minyak kembali memunculkan kekhawatiran inflasi. Yield obligasi AS ikut naik karena investor menilai harga energi yang tinggi dapat membuat tekanan harga bertahan lebih lama dan mempersulit langkah The Fed untuk menahan suku bunga.
Di pasar mata uang, yen menjadi perhatian setelah melemah tajam pada Senin. USD/JPY sempat bergerak ke sekitar 159,14–159,17, membuat yen kehilangan sebagian kenaikan yang diperoleh setelah intervensi sebelumnya. Pelaku pasar kembali waspada terhadap kemungkinan tindakan otoritas Jepang jika pelemahan berlanjut.
Ketegangan Hormuz menjadi penyebab utama harga minyak tetap tinggi. Presiden Donald Trump kembali memperkeras sikap terhadap tuntutan Iran, sementara belum ada kepastian mengenai pembukaan penuh jalur pelayaran. Kondisi ini membuat pasar semakin skeptis terhadap laporan bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat.
Fokus investor sekarang tertuju pada CPI AS yang akan dirilis Rabu, 12 Agustus. Konsensus memperkirakan headline CPI naik sekitar 0,1% secara bulanan dan core CPI sekitar 0,2%. Data tersebut menjadi penting setelah NFP yang lemah sebelumnya membuat peluang kenaikan suku bunga September berkurang.
Analisis Newsmaker: Market kembali menghadapi dilema antara tenaga kerja AS yang melemah dan inflasi energi yang meningkat. Jika CPI ikut melandai, The Fed berpeluang menahan suku bunga dan sentimen emas serta saham bisa membaik. Sebaliknya, CPI yang panas ditambah Brent mendekati US$90 dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga, memperkuat dolar, dan menekan aset berisiko.(asd)*
Source: Newsmaker.id