Emas Stabil, Pasar Tunggu Kepastian Timur Tengah dan The Fed
Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa setelah berhasil rebound dari level terendah sejak 23 Maret. Penguatan emas terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah Israel dan Iran menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul dorongan diplomatik dari Presiden AS Donald Trump. Meski demikian, kenaikan emas masih terbatas karena investor memilih menunggu kepastian lebih lanjut terkait situasi geopolitik di Timur Tengah.
Harapan perdamaian di kawasan masih dibayangi sejumlah hambatan. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir belum menunjukkan kemajuan berarti. Washington menginginkan jaminan bahwa Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menuntut pencabutan sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, serta pengakuan atas kontrolnya terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Ketidakpastian tersebut membuat risiko geopolitik tetap tinggi. Meskipun konflik terbuka antara Israel dan Iran mereda, pasar masih melihat potensi ketegangan yang dapat kembali meningkat sewaktu-waktu. Kondisi ini membantu menjaga minat terhadap aset safe haven seperti emas, sekaligus membatasi pelemahan lebih lanjut pada harga logam mulia tersebut.
Di sisi lain, pasar juga menghadapi kekhawatiran inflasi yang masih tinggi akibat terganggunya aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Situasi ini mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap hawkish lebih lama. Pelaku pasar bahkan menilai peluang kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun masih cukup besar, yang membuat imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan menjadi penghambat bagi kenaikan emas.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed selanjutnya. Selama ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi masih berlangsung, pergerakan emas diperkirakan tetap terbatas dengan risiko tekanan turun yang masih cukup dominan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id