Emas Rebound, Tapi Deal Iran Masih Menggantung
Harga emas menguat pada Kamis (4/6) setelah Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata bersyarat, yang dinilai bisa menjadi langkah menuju meredakan konflik Timur Tengah yang selama ini mengguncang pasar energi dan memicu risiko inflasi. Emas sempat naik hingga 1,8% dan menembus US$4.515/oz sebelum memangkas sebagian kenaikan, seiring pasar menimbang realisasi kesepakatan yang masih bergantung pada “penghentian tembakan sepenuhnya” oleh Hezbollah.
Kesepakatan ini dipandang sebagai upaya terbaru Washington untuk menjaga jalur perundingan dengan Iran tetap hidup. Meski AS dan Iran disebut sudah punya kerangka kasar untuk memperpanjang gencatan dan membuka kembali Selat Hormuz, kesepakatan final masih sulit dicapai, dan Iran menyatakan belum ada kemajuan terbaru dalam pembicaraan. Di lapangan, pertempuran di Lebanon juga masih berlanjut, menegaskan bahwa pasar tetap sangat headline-driven.
Dukungan untuk emas datang dari pergerakan lintas aset: minyak, yield obligasi, dan dolar bergerak turun, sehingga mengurangi tekanan yang biasanya menahan emas. Namun analis TD Securities mengingatkan pasar masih rapuh dan pelaku sistematis/trend-followers cenderung tetap condong ke posisi jual dalam horizon pekan depan, sehingga reli berpotensi tidak mulus.
Secara lebih besar, gangguan berkepanjangan pada arus energi via Hormuz tetap menjadi risiko utama. Selama jalur ini belum benar-benar normal, harga energi berpotensi tetap tinggi dan menjaga kekhawatiran inflasi global, yang mendorong bank sentral menahan suku bunga tinggi lebih lama—faktor struktural yang membatasi ruang kenaikan emas.
Pada perdagangan New York pukul 16:30, emas spot tercatat naik 0,9% ke US$4.477,69/oz. Perak naik 1,1% ke US$73,88, sementara platinum dan palladium ikut menguat. Indeks dolar Bloomberg relatif stabil, naik tipis 0,07%.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id