Emas Naik Tipis Saat Pasar Menimbang Sinyal AS-Iran dan Pergerakan Minyak
Emas spot menguat pada perdagangan Selasa (02/06), seiring pelaku pasar menilai sinyal yang saling bertentangan dari Amerika Serikat dan Iran terkait prospek diplomasi di tengah kembali meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Harga emas sempat naik lebih dari 1% hingga menembus $4.532 per ons, sebelum memangkas sebagian kenaikan dan tetap bertahan lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya.
Ketidakpastian mereda belum terlihat jelas. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan “cepat”, sekaligus menepis ancaman Teheran untuk menangguhkan diplomasi dan menutup jalur air strategis tersebut sepenuhnya. Di saat yang sama, perbedaan keterangan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait percakapan mengenai pertempuran di Lebanon menambah kebingungan pasar terhadap arah negosiasi untuk meredakan konflik yang telah memasuki bulan keempat.
Dari sisi transmisi fundamental, pergerakan emas kembali sensitif terhadap minyak. Setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam sekitar sebulan, harga minyak turun pada Selasa. Koreksi minyak ini ikut memberi ruang bagi emas untuk menguat karena minyak memengaruhi ekspektasi inflasi. Ekspektasi inflasi kemudian membentuk pandangan pasar terhadap suku bunga, imbal hasil, dan pergerakan dolar—tiga faktor yang biasanya menjadi penentu utama arah harga emas.
Meski kerap dipandang sebagai aset aman, emas pada episode ini tidak sepenuhnya bergerak mengikuti pola “risk-off” klasik. Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, emas sempat turun tajam dan masih berada sekitar 14% di bawah level pra-perang. Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakannya juga cenderung terbatas (range-bound), menunjukkan pasar masih menunggu kepastian narasi yang dominan.
Perhatian berikutnya tertuju pada kelancaran kembali lalu lintas energi dan perdagangan melalui Hormuz. Jika risiko gangguan mereda, tekanan inflasi berpotensi turun dan membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi ini secara teori mendukung emas karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah. Namun, ruang pelonggaran itu dapat terbatas oleh data AS: aktivitas manufaktur pada Mei dilaporkan berkembang dengan laju tercepat dalam empat tahun, memperkuat argumen bahwa Federal Reserve memiliki alasan lebih sedikit untuk segera memangkas suku bunga.
Pada pukul 14.13 di Singapura, harga emas spot naik 0,8% menjadi $4.520,83 per ons. Indeks Spot Dolar Bloomberg turun 0,1%. Perak naik 2,2% menjadi $76,51 per ons, sementara platinum dan paladium turut menguat. Ke depan, arah emas berpotensi tetap ditentukan oleh dua jangkar utama: perkembangan diplomasi dan keamanan di Timur Tengah, serta perubahan ekspektasi suku bunga AS yang dipengaruhi data aktivitas dan inflasi. (asd)*
5 Inti Poin
- Emas spot naik tipis karena pasar menilai sinyal AS-Iran yang belum konsisten dan risiko di Selat Hormuz.
- Koreksi harga minyak menjadi penopang tambahan bagi emas lewat kanal inflasi dan ekspektasi suku bunga.
- Emas masih sekitar 14% di bawah level pra-perang dan bergerak dalam kisaran sempit beberapa pekan terakhir.
- Peluang pelonggaran moneter membaik bila risiko Hormuz mereda, tetapi data manufaktur AS yang kuat membatasi ekspektasi pemangkasan suku bunga.
- Variabel yang dipantau: stabilitas Hormuz, perkembangan konflik Lebanon/Israel, arah minyak, dolar AS, serta perubahan ekspektasi The Fed.
Sumber: Newsmaker.id