Emas Sentuh Tertinggi Dua Pekan Ditengah Harapan Damai AS-Iran
Harga emas naik untuk sesi ketiga beruntun pada Kamis (7/5) dan menyentuh level tertinggi dua pekan, ditopang meredanya kekhawatiran inflasi seiring harapan kesepakatan damai AS-Iran, serta pelemahan dolar AS.
Spot gold naik 1,2% ke US$4.747,26 per ons pada 09.47 ET (13.47 GMT), sementara kontrak berjangka emas Juni menguat 1,3% ke US$4.753,71.
Penguatan berlanjut setelah emas melonjak lebih dari 3% pada Rabu—kenaikan harian terbesar sejak akhir Maret—ketika harga minyak jatuh tajam di atas ekspektasi tensi Timur Tengah dapat mereda. Britannia Global Markets menilai pasar kini cenderung “menunggu kejelasan” jalur diplomasi AS-Iran, dengan Teheran meninjau proposal baru yang dapat membuka jalan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz.
Perkembangan diplomatik menjadi fokus utama. Iran dilaporkan tengah mengevaluasi proposal AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan, sementara Presiden Donald Trump tetap menyampaikan ancaman serangan lanjutan jika kesepakatan gagal. Wall Street Journal melaporkan pembicaraan melalui mediator mengarah pada kerangka satu halaman berisi 14 poin untuk memulai kembali negosiasi, yang disebut dapat dimulai pekan depan di Pakistan, sebelum proses lanjutan selama sekitar sebulan membahas isu nuklir dan pelonggaran sanksi, meski perbedaan kunci masih tersisa terkait pengayaan dan inspeksi. CNN melaporkan Iran diperkirakan menyampaikan respons kepada mediator pada Kamis.
Kanal transmisinya jelas: prospek normalisasi arus energi menekan minyak, meredakan kekhawatiran inflasi, dan menurunkan yield obligasi AS, sehingga mengangkat daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas. ING menilai potensi pelonggaran tekanan harga energi memberi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga, yang mendukung emas. Di saat yang sama, dolar AS yang melemah turut mengangkat permintaan karena membuat emas lebih murah bagi pembeli non-AS, setelah sebelumnya dolar mendapat dukungan safe haven selama konflik.
Pasar kini menunggu data Non-Farm Payrolls AS pada Jumat sebagai petunjuk lanjutan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Variabel yang dipantau adalah: kejelasan dan kredibilitas kerangka kesepakatan AS-Iran (termasuk isu Hormuz), arah harga energi sebagai penentu tekanan inflasi, respons yield Treasury dan dolar, serta sinyal terbaru dari pejabat The Fed terkait keseimbangan risiko inflasi dan ketahanan pasar tenaga kerja.(yds)
Sumber: newsmaker.id