Emas Perpanjang Reli Saat Pasar Menanti Sinyal Akhir Perang Iran
Harga emas memperpanjang kenaikan untuk hari ketiga, seiring pelaku pasar menunggu petunjuk dari Presiden AS Donald Trump terkait peluang berakhirnya perang di Iran. Bullion sempat naik hingga 2,7% mendekati US$4.800 per troy ounce pada Rabu, melanjutkan lonjakan 3,5% pada sesi sebelumnya, menjelang pidato prime-time Trump tentang konflik Timur Tengah yang memasuki pekan kelima.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump akan menilai kampanye militer AS di Iran sebagai keberhasilan dan menekankan bahwa penutupan operasi dapat terjadi dalam dua hingga tiga pekan. Dalam paparan itu, AS akan digambarkan telah memenuhi atau melampaui seluruh target militernya, menurut pejabat tersebut yang berbicara anonim untuk menjelaskan garis besar pernyataan sebelum disampaikan.
Pasar menilai jalur menuju deeskalasi belum mulus. Trump beberapa kali bergeser antara menyatakan resolusi sudah dekat dan mengancam eskalasi operasi. Iran juga mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri pertempuran, termasuk terkait otoritas atas Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang menjadi lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia.
Perang di Timur Tengah mengguncang pasar global dan menekan pasokan energi serta berbagai komoditas, memicu kekhawatiran lonjakan inflasi. Namun, dalam beberapa hari terakhir, narasi mulai bergeser: sebagian pelaku pasar melihat risiko terhadap pertumbuhan ekonomi lebih dominan dibanding risiko inflasi, sehingga ekspektasi pengetatan suku bunga untuk meredam inflasi mulai berkurang. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan awal pekan ini bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga.
“Daya tarik safe haven emas cenderung muncul kembali ketika cerita bergeser dari inflasi ke risiko pertumbuhan,” kata Yuxuan Tang, head of rates and FX strategy Asia di JPMorgan Private Bank. Ia menilai Federal Reserve memiliki ruang yang terbatas untuk menaikkan suku bunga pada siklus ini dan akan lebih fokus pada tekanan di pasar tenaga kerja. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski rebound terjadi dalam beberapa hari terakhir, emas sebelumnya sempat mencatat penurunan hampir 12% pada Maret, menjadi kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2008. David Higgins, head of trading di pedagang emas batangan dan koin Merrion Gold, mengatakan pembelian ritel sempat melambat pada awal penurunan tersebut karena berlawanan dengan ekspektasi sebagian pelanggan yang memperkirakan reli di tengah eskalasi konflik. Namun, ia menyebut aktivitas kembali ramai dalam sekitar sepekan terakhir, dengan pembeli ritel lebih menyoroti inflasi dan relatif kurang sensitif terhadap level suku bunga dibanding pelaku lembaga.
Sejumlah bank masih mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Goldman Sachs, dalam catatan yang terbit Selasa, mempertahankan proyeksi akhir tahun US$5.400 per ounce, mengutip pembelian berkelanjutan oleh bank sentral serta proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga di AS tahun ini.
Pada perdagangan spot, emas naik 1,9% menjadi US$4.760,08 per ounce pada pukul 15.15 di New York. Perak naik 0,2% ke US$75,12, platinum menguat tipis, sementara paladium melemah. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,3%.
Pelaku pasar memantau isi pidato Trump, dinamika Selat Hormuz, arah ekspektasi suku bunga AS, pergerakan dolar, serta sinyal permintaan bank sentral dan aliran safe haven yang dapat kembali membentuk volatilitas harga emas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id