Trump Klaim Perang Iran Akan Selesai, Hormuz Dibiarkan Terbuka Sendiri
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa ia memprediksi perang dengan Iran akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu mendatang. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai sebagian besar tujuan militer, dan akan menyerahkan penyelesaian masalah di Selat Hormuz kepada negara-negara lain.
"Saya rasa dalam dua minggu, mungkin dua minggu, mungkin tiga," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (31/3). Trump menekankan bahwa Iran tidak perlu mencapai kesepakatan dengan AS agar perang dapat berakhir, asalkan Iran tidak memperoleh senjata nuklir, yang telah menjadi tujuan utama Amerika.
Trump menambahkan bahwa perubahan rezim di Iran, meskipun bukan tujuan utamanya, telah terjadi dengan penggulingan pemerintahan yang ada. “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir, dan itu sudah tercapai,” tegas Trump.
Frustrasi dengan Sekutu AS
Trump kembali menyatakan frustrasinya terhadap sekutu-sekutu Amerika yang ia anggap tidak cukup berusaha untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sebagian besar tertutup sejak awal konflik. Dalam pernyataan yang menggemparkan, Trump menyarankan agar negara-negara yang bergantung pada jalur vital ini, seperti China, harus mulai bertanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri. “Tidak ada alasan bagi kami untuk melakukannya,” ujar Trump mengenai peran AS dalam membuka kembali Hormuz.
Melepaskan Kontrol atas Hormuz
Meskipun Trump menyarankan bahwa AS akan keluar dari konflik dalam waktu dekat, ia juga menyebut kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran, termasuk penghancuran jembatan-jembatan strategis di negara tersebut, sebagai upaya untuk mendorong Iran menuju meja perundingan.
Krisis Energi Global dan Dampaknya
Dengan penutupan Hormuz yang membawa dampak besar bagi suplai energi global, harga minyak Brent mencatatkan lonjakan sekitar 60% pada bulan Maret 2026. Sementara itu, harga bensin AS telah menembus angka $4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022. Trump berusaha untuk mengalihkan beban pemulihan Selat Hormuz kepada negara-negara yang lebih bergantung pada pasokan energi dari kawasan ini, terutama Asia.
Isu Politikal dan Strategi Jangka Panjang
Di tengah semakin memanasnya ketegangan politik domestik menjelang pemilu pertengahan 2026, Trump menekankan bahwa ekonomi AS akan tetap solid setelah gangguan singkat akibat konflik ini, dengan fokus pada kebijakan ekonomi jangka panjang seperti pemotongan pajak dan deregulasi. Namun, kritikus menyatakan bahwa ketergantungan global terhadap energi dari Timur Tengah menunjukkan bahwa warisan dari kebijakan luar negeri Trump akan sulit untuk sepenuhnya dipulihkan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id