Rally Emas Berlanjut, Tren Baru atau Sementara?
Emas melanjutkan rally selama tiga hari berturut-turut pada hari Rabu (01/4), terangkat oleh sinyal bahwa perang di Timur Tengah mungkin akan segera berakhir. Para pedagang mulai mengalihkan perhatian mereka dari kemungkinan kenaikan suku bunga menuju potensi risiko jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi. Harga emas naik hingga 1,2%, menembus angka $4.700 per ons, menambah lonjakan 3,5% pada sesi sebelumnya. Pernyataan Presiden Donald Trump bahwa perang dengan Iran diperkirakan akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu memberi optimisme di pasar, dengan Trump mengindikasikan bahwa AS telah mencapai sebagian besar tujuan militernya dan akan menyerahkan urusan selat Hormuz kepada negara lain.
Kenaikan harga emas ini juga bertepatan dengan rally di pasar saham dan penurunan nilai dolar AS. Para pedagang obligasi mulai mengurangi ekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan risiko inflasi yang ditimbulkan oleh konflik tersebut. Sebaliknya, mereka kini berfokus pada dampak perang terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, sebelumnya menyatakan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga, memberikan sinyal bahwa bank sentral AS mungkin akan lebih memfokuskan kebijakannya pada pasar tenaga kerja yang tertekan.
Menurut Yuxuan Tang, kepala strategi suku bunga dan FX Asia di JPMorgan Private Bank, daya tarik emas sebagai aset aman biasanya meningkat ketika narasi beralih dari inflasi ke risiko pertumbuhan ekonomi. Tang juga menambahkan bahwa ia yakin Federal Reserve memiliki kapasitas terbatas untuk menaikkan suku bunga pada siklus ini dan akan lebih memprioritaskan pemulihan pasar tenaga kerja. Kenaikan suku bunga yang terbatas ini dianggap sebagai angin segar bagi harga emas, yang tidak memberikan bunga.
Meskipun mengalami rebound dalam beberapa hari terakhir, harga emas tercatat turun hampir 12% pada bulan Maret, yang merupakan kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2008. Perang di Timur Tengah yang memasuki minggu kelima telah mengguncang pasar global dan menyebabkan gangguan pasokan energi serta barang-barang lainnya, memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi yang melebihi daya tarik tradisional emas sebagai aset pelindung.
Ke depannya, prediksi harga emas tetap bullish, meskipun ada penurunan signifikan di awal tahun. Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangannya yang optimistis, dengan memperkirakan harga emas akan mencapai $5.400 per ons pada akhir tahun. Analisis ini didorong oleh pembelian emas yang berkelanjutan oleh bank sentral dan proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Jika perang Iran berakhir seperti yang diprediksi Trump, harga emas kemungkinan akan terpengaruh oleh ketenangan pasar, tetapi sentimen negatif dari risiko ekonomi jangka panjang tetap akan memberikan dukungan kuat bagi harga logam mulia ini.(asd)
Sumber: Newsmaker.id