Euro & Franc Menguat, Dolar Tertekan Isu Gencatan Senjata
Dolar AS melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada Rabu (1/4), turun terhadap mata uang utama termasuk euro dan franc Swiss, seiring pasar membaca tanda-tanda kian kuat bahwa gencatan senjata di konflik Timur Tengah mungkin mendekat. Perkembangan ini mulai membalik sebagian posisi “safe haven” yang sebelumnya menopang dolar sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa AS akan mengakhiri perang dengan Iran “cukup segera” dan dapat kembali melakukan “serangan titik” bila diperlukan. Trump juga sebelumnya menyebut dalam unggahan Truth Social bahwa pemimpin baru Iran meminta gencatan senjata. Trump dijadwalkan menyampaikan pidato kepada publik pada Rabu pukul 21.00 EDT (Kamis 01.00 GMT) untuk memberikan pembaruan terkait Iran.
Di pasar valas, euro naik 0,27% ke US$1,1584, level tertinggi dalam sepekan dan berada di jalur kenaikan dua sesi beruntun. Poundsterling menguat 0,56% ke US$1,33015. Dolar melemah 0,58% terhadap franc Swiss ke 0,7947, juga menuju penurunan dua hari beruntun. Indeks dolar (DXY), yang mengukur dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, turun tipis 0,07% ke 99,67.
Terhadap yen Jepang, dolar naik tipis 0,09% ke 158,85 setelah terkoreksi dari puncak tahun ini di 160,47 dan kembali turun melewati level psikologis 160 yang sempat memicu kekhawatiran intervensi otoritas Jepang. Dolar juga melemah 0,13% terhadap yuan offshore ke 6,878, sementara dolar Australia menguat 0,26% ke US$0,6918.
Meski pasar menilai peluang gencatan senjata meningkat, serangan dilaporkan masih terjadi di beberapa titik. Pada Rabu, drone dilaporkan menghantam tangki bahan bakar di bandara internasional Kuwait, sementara Qatar mengatakan sebuah kapal tanker minyak terkena rudal jelajah Iran di perairan Qatar.
Harga minyak justru turun, dengan Brent terkoreksi 2,7% dan ditutup di US$101,16 per barel. Pelemahan minyak ini ikut meredakan asumsi pasar bahwa guncangan geopolitik akan memaksa Federal Reserve bersikap lebih hawkish. Eugene Epstein dari Moneycorp menilai kenaikan energi bisa mendorong inflasi dalam jangka pendek, tetapi karena bersifat “supply shock” pada akhirnya berpotensi menekan pertumbuhan, sehingga The Fed kecil kemungkinan menaikkan suku bunga di tengah risiko perlambatan ekonomi.
Fokus berikutnya adalah data AS, terutama laporan ketenagakerjaan (NFP) Jumat untuk Maret. Konsensus jajak pendapat Reuters memperkirakan penambahan 60.000 pekerjaan, setelah Februari mencatat penurunan tak terduga 92.000. Goldman Sachs juga menyoroti rilis CPI Maret pekan depan sebagai indikator penting untuk melihat seberapa cepat guncangan energi merembet ke inflasi inti.
Dalam waktu dekat, arah dolar diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan gencatan senjata dan pernyataan Trump, pergerakan harga minyak, rilis data tenaga kerja dan inflasi AS yang membentuk ekspektasi suku bunga The Fed, serta dinamika dolar-yen yang dapat kembali memunculkan isu intervensi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id