Emas Stabil, Stagflasi Kembali Jadi Narasi
Harga emas bergerak dalam rentang sempit pada perdagangan Selasa (17/3), ketika pelaku pasar menyeimbangkan risiko inflasi dari perang di Timur Tengah dengan langkah-langkah untuk membatasi guncangan pasokan minyak. Bullion bertahan di sekitar US$5.000 per troy ounce, setelah mencatat penurunan kecil pada Senin.
Harga minyak kembali menguat setelah penurunan pertama dalam hampir sepekan, menyusul peningkatan serangan Iran terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk Persia dan persiapan AS untuk merilis tahap awal cadangan minyak darurat. Presiden AS Donald Trump juga meminta dukungan negara lain untuk mengamankan Selat Hormuz, meski Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis menyatakan negaranya dan Eropa tidak akan ikut operasi militer di dekat Iran. Di lapangan, arus pelayaran di Hormuz masih mendekati terhenti.
Dengan konflik AS-Israel melawan Iran memasuki minggu ketiga dan harga energi yang lebih tinggi memicu kekhawatiran inflasi, pasar menilai ruang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lain tahun ini makin terbatas. Pelaku pasar melihat peluang penurunan suku bunga pada rapat The Fed pekan ini nyaris tidak ada. Suku bunga tinggi biasanya menjadi hambatan bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Namun emas masih mencatat kenaikan sekitar 16% sepanjang tahun ini, ditopang ketidakpastian geopolitik dan isu independensi The Fed yang menjaga permintaan aset lindung nilai. Momentum kenaikan tertahan sejak perang dimulai pada 28 Februari, tetapi kekhawatiran stagflasi—perlambatan pertumbuhan di tengah inflasi tinggi—dinilai tetap menjadi penopang jangka menengah karena meningkatkan daya tarik emas sebagai penyimpan nilai.
UBS menilai fokus pasar pada suku bunga hanyalah satu bagian dari faktor penggerak. Perlambatan pertumbuhan yang memicu stimulus fiskal dan moneter bisa membuka ruang kenaikan bagi emas, sementara ketidakpastian geopolitik yang tinggi cenderung mempertahankan permintaan safe haven.
Permintaan fisik juga disebut tetap kuat di China. Investor menambah kepemilikan emas melalui ETF setiap hari sejak kembali dari libur Tahun Baru Imlek pada 24 Februari, dengan akumulasi nilai melampaui 17 miliar yuan. Premi emas di Shanghai juga bergerak di atas harga global, mengindikasikan permintaan domestik yang masih solid.
Pada pukul 11.18 waktu London, spot gold berada di US$5.007,10 per ons. Perak turun 0,2% ke US$80,62, sementara platinum dan palladium menguat tipis. Indeks dolar Bloomberg tercatat stabil. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id