Jelang Fed & BOJ, Emas Menguat Tipis Tapi Tetap Range-Bound
Harga emas menguat tipis dan kembali berada di atas level-level kunci pada perdagangan Eropa hari Selasa (17/3), dengan perhatian pasar masih tertuju pada pergerakan minyak, eskalasi perang AS–Israel vs Iran, serta rangkaian rapat bank sentral besar yang berlangsung pekan ini. Emas sempat terpeleset di bawah area psikologis $5.000 per ons pada sesi sebelumnya, namun pulih kembali setelah harga minyak menurun sehingga meredakan sebagian kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik Iran.
Pada sesi terbaru, emas spot naik tipis, sementara emas berjangka menguat lebih kuat. Meski demikian, pergerakan emas secara umum masih tertahan dalam rentang yang sama, yakni sekitar $5.000–$5.200 per ons yang sudah bertahan kurang lebih tiga pekan terakhir. Pasar menilai sinyal dari konflik Iran masih campur aduk: di satu sisi, risiko geopolitik menopang permintaan safe haven; di sisi lain, lonjakan energi memunculkan ketakutan inflasi sehingga menahan ruang kenaikan emas.
Logam mulia lain juga ikut menguat. Platinum dan perak naik pada perdagangan Selasa, namun keduanya juga masih bergerak dalam kisaran terbatas setelah turun dari rekor tertinggi yang sempat dicapai pada akhir Januari—menunjukkan bahwa pasar logam mulia belum menemukan arah yang benar-benar tegas.
Fokus berikutnya pekan ini adalah rapat bank sentral. Federal Reserve dijadwalkan bertemu pada Rabu dan secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, karena ketidakpastian dampak inflasi dari perang Iran meningkat. Bank of Canada juga bertemu pada Rabu, sementara Bank of Japan, Bank Nasional Swiss, Bank of England, dan Bank Sentral Eropa dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis.
Pelaku pasar akan memantau pernyataan bank sentral terkait inflasi dan ekspektasi suku bunga, terutama di tengah risiko kenaikan energi akibat perang. Kekhawatiran utama pasar adalah lonjakan inflasi global berbasis minyak dapat mendorong bank sentral bersikap lebih agresif, sehingga suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Suku bunga yang tinggi biasanya menjadi tekanan bagi aset non-yielding seperti emas karena menurunkan daya tarik memegang logam mulia. Sebagian reli besar emas di awal 2026—yang sempat mendorong harga mendekati rekor di sekitar $5.600 per ons—juga dipicu oleh spekulasi bahwa suku bunga akan turun tahun ini. Karena itu, narasi suku bunga “higher-for-longer” akan menjadi penentu apakah emas bisa keluar dari fase sideways atau tetap bergerak berombak dalam rentang yang sama. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id