BOJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga Karena Inflasi Terdorong Krisis Energi
Anggota Dewan Bank of Japan (BOJ), Junko Koeda pada hari Kamis (21/5), menyatakan bank sentral kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada “kecepatan yang tepat” karena tekanan harga dari konflik Timur Tengah berpotensi mendorong inflasi inti di atas target 2%. Pernyataan ini meningkatkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan BOJ 15–16 Juni.
Koeda menekankan perlunya memperhatikan efek samping dari suku bunga riil negatif yang berkepanjangan, terutama karena harga minyak diperkirakan tetap tinggi untuk periode yang lama. Ia mencatat bahwa inflasi sudah mulai meningkat dan risiko inflasi lebih besar dibanding potensi resesi, karena perusahaan saling meneruskan kenaikan biaya.
Inflasi grosir di Jepang meningkat tercepat dalam tiga tahun pada April akibat lonjakan harga minyak dan produk kimia. Koeda menilai ekonomi Jepang kemungkinan menghindari penurunan besar berkat permintaan global yang kuat di sektor teknologi informasi dan output gap positif.
Komentar Koeda mengikuti pernyataan anggota dewan lain, Kazuyuki Masu, yang juga mendorong kenaikan suku bunga bila tidak ada tanda perlambatan ekonomi. Pasar kini menilai kemungkinan sekitar 80% BOJ akan menaikkan suku bunga pada Juni, sejalan dengan survei ekonom yang mayoritas mendukung kenaikan.
Pemantauan berikutnya akan fokus pada keputusan resmi BOJ, perkembangan harga energi global, serta pengaruh inflasi terhadap suku bunga riil dan pertumbuhan ekonomi Jepang.
Variabel yang perlu diperhatikan: data inflasi dan produksi Jepang, harga minyak, keputusan BOJ Juni, serta perkembangan krisis energi Timur Tengah.(arl)
Sumber: Newsmaker.id