Schmid: The Fed Harus Tegas Lawan Inflasi, “Bukan Saatnya Lengah”
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid menegaskan fokus utamanya tetap pada inflasi yang tinggi dan meminta bank sentral menunjukkan kesiapan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai stabilitas harga. Dalam pidato yang disiapkan untuk konferensi di Reykjavík, Islandia pada hari Jumat (29/5), Schmid mengatakan inflasi sudah berada di atas definisi stabilitas harga The Fed (2%) selama lebih dari lima tahun, sehingga “bukan saatnya menurunkan kewaspadaan”.
Pernyataan Schmid muncul ketika pejabat The Fed kembali menaruh perhatian lebih besar pada inflasi setelah perang AS–Israel dengan Iran memicu tekanan harga melalui kenaikan biaya energi dan barang lain, sekaligus menekan sentimen konsumen. Di tengah akselerasi inflasi, semakin banyak pembuat kebijakan yang mendorong agar komunikasi The Fed tidak lagi condong ke pemangkasan, melainkan menegaskan bahwa langkah berikutnya sama mungkin berupa kenaikan maupun penurunan suku bunga.
Schmid juga menilai pasar tenaga kerja AS saat ini berada dalam kondisi lebih seimbang. Ia mengaitkan hal itu dengan perlambatan imigrasi dan percepatan pensiun yang mengurangi jumlah pencari kerja. “Lebih sedikit pekerja membutuhkan lebih sedikit pekerjaan,” ujarnya, yang menurutnya menjelaskan pertumbuhan lapangan kerja yang melambat namun tingkat pengangguran tetap relatif rendah dan stabil.
Schmid mengatakan awal bulan ini bahwa inflasi adalah risiko “paling mendesak” bagi ekonomi AS. Pandangan itu kembali mendapat sorotan setelah data terbaru menunjukkan indikator inflasi favorit The Fed naik 3,8% dalam 12 bulan hingga April, level tertinggi sejak 2023. Ia menegaskan pada Jumat, “Kekhawatiran utama saya adalah inflasi, yang terlalu panas dan sudah terlalu lama berada di atas target.”
Bagi pasar, pesan Schmid menambah bobot pada narasi “higher for longer”: bank sentral ingin menjaga kredibilitas anti-inflasi, terutama ketika tekanan energi kembali mengganggu proses disinflasi. Variabel yang dipantau berikutnya adalah apakah inflasi inti ikut bertahan tinggi, bagaimana ekspektasi inflasi bergerak, serta apakah pasar tenaga kerja tetap cukup “seimbang” untuk memberi ruang kebijakan tetap ketat lebih lama.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id