Williams The Fed : Energi Naik Dorong Inflasi, Dampaknya Dinilai Singkat
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menegaskan pada Kamis (28/5) bahwa arah kebijakan moneter akan ditentukan oleh data, prospek, dan risiko. Ia menilai ekonomi AS masih solid dan pasar tenaga kerja secara fundamental tetap sehat, meski perang di Timur Tengah mulai menekan belanja konsumen melalui kenaikan biaya energi.
Williams mengatakan sebagian kenaikan produktivitas AS sudah terjadi sebelum lonjakan minat pada AI, dan “dynamism” ekonomi AS menjadi pendorong utama produktivitas. Namun ia juga menekankan AI berpotensi memberi dampak yang bertahan terhadap produktivitas ke depan, faktor yang bisa memengaruhi kapasitas ekonomi dan jalur inflasi dalam jangka menengah.
Terkait inflasi, Williams menyebut perang di Timur Tengah mendorong inflasi, tetapi lonjakan energi diperkirakan berdampak singkat dan tekanan inflasi akibatnya kemungkinan memuncak dalam beberapa bulan ke depan. Ia menambahkan dampak tarif juga diperkirakan mencapai puncak dalam beberapa bulan, sementara dalam waktu dekat inflasi berada di sekitar 4% dan inflasi inti sekitar 3%.
Williams menekankan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi tetap tertambat. Ia melihat ekspektasi inflasi jangka pendek masih tinggi, namun ekspektasi jangka panjang tetap stabil. Meski begitu, ia mengingatkan gangguan rantai pasok menjadi perhatian dan sudah terjadi akibat perang.
Soal kebijakan suku bunga, Williams menyatakan inflasi yang terus-menerus tinggi akan menuntut suku bunga lebih tinggi, tetapi ia menegaskan kondisi saat ini belum mengarah ke skenario itu. Bagi pasar, pesan utamanya adalah The Fed tetap membuka opsi—tetapi akan bergerak mengikuti bukti dari data inflasi, energi, tarif, dan dampak perang terhadap konsumsi serta rantai pasok. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id