AS Klaim Hormuz Terbuka, Minyak Mulai Stabil
Militer Amerika Serikat menyatakan jalur selatan Selat Hormuz tetap bebas dan terbuka bagi kapal komersial. Jalur tersebut berada di wilayah Oman dan berbeda dengan rute utara yang lebih dekat ke Iran. Pernyataan ini belum berarti seluruh aktivitas pelayaran di Hormuz telah kembali normal, tetapi memberi sinyal bahwa sebagian kapal masih dapat melintas dengan pengamanan tertentu.
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengklaim telah membantu lebih dari 1.000 kapal melewati jalur tersebut selama konflik berlangsung. Namun, perusahaan pelayaran dan asuransi masih membutuhkan kepastian keamanan lebih luas karena ancaman serangan, ranjau laut, dan pembatasan dari Iran belum sepenuhnya berakhir.
Harapan normalisasi semakin kuat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kesepakatan dengan Iran dapat tercapai dalam waktu dekat. Pembicaraan disebut berlangsung antara Iran dan Oman, dengan mediasi Pakistan serta keterlibatan tidak langsung dari Washington. Meski demikian, belum ada dokumen final yang diumumkan secara resmi.
Harga minyak mulai stabil setelah jatuh tajam selama dua sesi. Pada perdagangan Rabu pagi, Brent naik tipis ke sekitar US$79,62 per barel, sedangkan WTI bergerak di sekitar US$75,90. Sehari sebelumnya, Brent anjlok lebih dari 5% dan ditutup di bawah US$80 karena pasar memperhitungkan peluang pulihnya arus energi melalui Hormuz.
Namun, volume pelayaran masih jauh dari kondisi sebelum konflik. Selat Hormuz biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga normalisasi penuh membutuhkan kesepakatan politik, pembersihan ranjau, serta jaminan keamanan bagi kapal dan awaknya.
Analisis Newsmaker: Pernyataan AS memberi tekanan bearish bagi minyak, tetapi pasar mulai berhati-hati karena jalur yang dinyatakan terbuka baru berada di sisi Oman dan kesepakatan dengan Iran belum final. Brent berpotensi turun kembali menuju US$78–US$77 jika perjanjian diumumkan. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau serangan baru terhadap kapal dapat mengangkat Brent kembali ke atas US$80–US$82. Bagi emas, meredanya risiko Hormuz dapat mengurangi permintaan aset aman, tetapi penurunan minyak juga menekan inflasi dan ekspektasi kenaikan bunga sehingga membatasi pelemahannya.(gn)
Sumber: Newsmaker.id