Iran Tinjau Proposal Damai AS, Pakistan Mediasi untuk Hindari Eskalasi
Iran sedang menilai proposal perdamaian terbaru dari Amerika Serikat, sebagai upaya menghindari kebangkitan konflik bersenjata. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa negara tersebut sedang meninjau poin-poin AS berdasarkan teks 14 poin Iran beberapa minggu lalu, yang mencakup kesepakatan jangka pendek terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade pelabuhan Iran.
Presiden Iran menegaskan bahwa negara tidak akan menyerah di bawah tekanan, sementara Washington menuntut pengakhiran program pengayaan nuklir Iran dan pengalihan stok uranium olahan tinggi, yang menjadi salah satu titik perbedaan utama. Masalah Lebanon juga tetap sensitif, dengan serangan harian Israel terhadap kelompok militan yang didukung Iran tetap berlangsung meski gencatan senjata berlaku.
Field Marshal Asim Munir dari Pakistan melakukan kunjungan ke Teheran untuk mempersempit kesenjangan dan memfasilitasi kemungkinan pengumuman kesepakatan. Islamabad memainkan peran penting sebagai mediator antara kedua pihak.
Ketegangan geopolitik telah memengaruhi pasar energi global: harga minyak Brent sempat turun namun kembali naik 1% menjadi $106 per barel, mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi pasokan energi. Pihak Iran juga memperingatkan bahwa jika agresi terhadapnya diulang, potensi konflik dapat meluas di luar kawasan Timur Tengah, dengan ancaman serangan terhadap target yang tidak terduga.
Variabel yang perlu dipantau: tanggapan resmi Iran terhadap proposal AS, hasil mediasi Pakistan, pergerakan harga minyak, dan perkembangan gencatan senjata di Lebanon.(arl)
Sumber: Newsmaker.id