Trump Tambah Tuntutan, Deal Iran Makin Jauh?
Presiden AS Donald Trump kembali memperkeras sikap terhadap Iran dengan mengajukan tuntutan kompensasi baru. Trump meminta Iran membayar kerugian atas korban dan konflik yang menurutnya berkaitan dengan Teheran, serta menegaskan tuntutan tersebut akan dibawa ke setiap negosiasi berikutnya.
Langkah ini datang setelah Iran lebih dulu meminta kompensasi atas kerusakan akibat perang dengan AS dan Israel. Teheran juga masih menuntut pencabutan sanksi, penghentian blokade laut, pelepasan aset yang dibekukan, dan jaminan keamanan sebelum Selat Hormuz dibuka penuh.
Tuntutan dari kedua pihak membuat peluang tercapainya kesepakatan cepat semakin kecil. Padahal sebelumnya Washington, Iran, dan Oman sama-sama memberi sinyal bahwa pembicaraan mengenai jalur pelayaran Hormuz mulai mengalami kemajuan.
Ketidakpastian tersebut langsung menjaga harga energi tetap tinggi. Brent bergerak mendekati US$88 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$82. Harga diesel Eropa juga melonjak setelah sejumlah fasilitas energi di Saudi Arabia, Libya, dan Rusia dilaporkan mengalami serangan.
Trump sebelumnya sempat memberi sinyal bahwa AS lebih memilih tekanan ekonomi daripada serangan militer baru. Namun, ia tetap menegaskan bahwa opsi militer masih tersedia. Iran, sementara itu, mengatakan kesepakatan dengan Oman mengenai jalur Hormuz sudah dekat tetapi belum bersedia melakukan pembicaraan langsung dengan Washington.
Analisis Newsmaker: Meningkatnya tuntutan AS dan Iran membuat pembukaan penuh Hormuz semakin sulit tercapai dalam waktu dekat. Kondisi ini cenderung menjaga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi, dan dapat kembali mengangkat ekspektasi suku bunga The Fed. Bagi emas, situasinya menjadi dua arah: risiko geopolitik mendukung safe haven, tetapi kenaikan minyak dan suku bunga dapat membatasi reli.(asd)
Sumber: Newsmaker.id