Iran–Oman Selangkah Lagi Buka Hormuz
Iran menyatakan telah mencapai kesepahaman dengan Oman mengenai koordinat jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pernyataan bersama kedua negara sedang ditinjau dan telah memasuki tahap akhir penyusunan.
Teheran menyebut pembicaraan berlangsung konstruktif dan terus bergerak maju. Namun, Iran memperingatkan bahwa kesepakatan hanya dapat diselesaikan apabila tidak ada pihak ketiga yang menghambat proses tersebut. Pernyataan itu tidak menyebut peran langsung Washington dan kembali menyalahkan AS serta Israel atas terganggunya pelayaran di Hormuz.
Kesepahaman ini berpotensi memberikan Iran kendali lebih besar terhadap kapal yang memasuki Teluk Persia. Dalam rancangan yang sebelumnya dibahas, kapal masuk akan melewati jalur dekat Iran, sedangkan kapal keluar menggunakan perairan Oman. Namun, mekanisme pengawasan, keamanan, dan biaya transit masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya selesai.
Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan pembukaan Hormuz dapat segera tercapai. Meski demikian, pejabat Iran menegaskan kesepakatan jalur dengan Oman tidak otomatis membuat selat langsung dibuka, karena pelaksanaannya masih bergantung pada perubahan sikap AS dan jaminan keamanan pelayaran.
Harga Brent bergerak di sekitar US$79 per barel setelah sebelumnya jatuh tajam karena pasar memperhitungkan peluang pulihnya arus minyak melalui Hormuz. Namun, minyak masih rentan berbalik naik karena pembicaraan belum menghasilkan kesepakatan final dan isu lain, termasuk program nuklir Iran serta blokade pelabuhan, belum terselesaikan.
Analisis Newsmaker: Kesepakatan resmi dan dimulainya kembali pelayaran akan menjadi sentimen bearish bagi minyak, tetapi positif bagi saham serta mata uang berisiko karena tekanan inflasi energi berkurang. Emas dapat kehilangan permintaan safe haven, meski penurunan minyak dan yield berpotensi menahan koreksinya. Sebaliknya, campur tangan pihak ketiga atau kegagalan implementasi dapat kembali mengangkat harga minyak dan memicu volatilitas tajam di pasar global. (arl)
Sumber: Newsmaker.id